Selasa, 22 Oktober 2013
Pelangganku Seorang Wanita Cantik ‘Penghibur’
Seperti hari-hari biasanya suasana ramai tapi tak menyenangkan berada dalam pusat perbelanjaan,yang ada satu-satunya di mataram lombok,pada pagi sampai menjelang siang tetap merasakan kejenuhan dan kebosanan,bagai di selimuti oleh kesunyian yang dengan indahnya menebarkan aromanya ke diri setiap manusia yang berada di dalamnya walau kenyataan nya ramai manusia-manusia yang berjalan-jalan dan berkeliling tanpa arah dan tujuan
Beberapa jam kemudian yang tak hampir menjelang siang segumpal dan setumpukan kardus-kardus berdatangan dari exspedisi pengiriman barang,memang sudah beberapa hari yang lalu kita tunggu kedatangan nya karna stok barang di stand kami sudah mulai kekurangan,setelah di kirim dari kantor pusat,memang ketika barang itu datang dari tempat ekspor pengiriman pertama di tuju,seketika itu barang langsung di luncurkan kekantor yang kebetulan kantor yang menerima barang tersebut tempat saya berteduh mencari nafkah penghasilan dan menapaki jejak kehidupan menuju karir masa depan yang lebih baik,sepertinya dan mudah-mudahan sih begitu……..hahahay
Setelah diri ini dan satu teman saya di paksa oleh keadaan untuk membantu dan mengerjakan itu semua,kali ini barang yang datang sangat lah banyak tak seperti biasanya,butuh tenaga extra untuk mengatasinya,dengan giat dan semangat nya kita beranjak dari duduk santai yang menjenuhkan dan membosankan itu,mulailah beraksi tanpa di suruh dan tanpa perintah pun masing-masing dari kita sudah memahami semua apa yang harus di kerjakan yang menjadi tanggung jawab kami bersama
Setelah semuanya berakhir beres dan memberikan sedikit uang rokok buat sang pengantar barang tadi,bertugaslah kita masing-masing dengan kerjaan yang telah di sediakan oleh datang nya setumpakan barang tadi,berjalan seperti biasanya tak ada yang special,menarik atau bahkan kesulitan mengatasinya,ketika barang-barang datang yang harus kita perbuat mengerjakan nya sampai akhirnya menjadi masing-masing “Unit”
Sebelumnya masing-masing di antara kita mulai membuka arsip pribadi catatan pemesanan,dengan sibuknya kita mulai menghubungi satu persatu castamer atau orang yang memang sudah jauh-jauh hari memesan barang yang mereka inginkan dari perusahaan kami,yang kita jajakan adalah alat kebugaran dan kesehatan mungkin lebih tepat nya Alat Fitness khusus rumah pribadi,hampir semua yang memesan mengharap mendapatkan tubuh sehat atau sekedar melangsingkan bentuk tubuh,menurunkan berat badan,kesehatan jantung,membakar kalori dan pembentukan otot tubuh,kurang lebih seperti itu,mereka itu semua sangatlah mempedulikan betapa pentingnya Olah Raga untuk kesehatan tubuhnya
Setelah sekian menit masing-masing dari kita selesai menghubungi manusia-manusia yang peduli dengan kesehatan dirinya itu.
Clink…!!!,keberuntungan kebetulan menghampiriku
“Keberungan Adalah Hadiah Buat Orang Yang Mau Berusaha”
Sepertinya kata mutiara ini sangat pas seperti yang aku alami saat itu,ini memang hari ku kali yaaa…….hahahay
Ada tiga castamers yang meminta barangnya yang di pesan segera di kirim
”siap bozzz…!!!”
(jawabku dalam hati)
Aku gas laju motor menuju tempat penyewaan mobil,setelah aku dapatkan dan kusiapkan barang yang di butuhkan,kumasukan barang dengan bantuan pak sopir kedalam back mobil kijang pic-upnya berwarna abu-abu yang tahun nya sekitaran 90-an,setelah selesai semua barang dengan susunan rapi dan tertata di back,mobil siap melaju ke tempat tujuan,kebetulan ada tiga tempat lokasi yang berbeda yang harus di kirim dua diantara barang nya terjangkau jika aku bawa sendiri dengan pacuan motor bebekku,jadi mobil yang telah aku sewa tadi mendapatkan amanat tugas mengirim di satu tempat lokasi saja,kebetulan barang yang khusus di bawa pakai mobil tersebut wajib hukumnya di bawa atau di antarnya menggunakan angkutan sewa,terlalu berat,susah dan menyiksa jika ngirimnya menggunakn motor sendiri
Ampun dach udah pernah,pinggang langsung encok…hahahay
kendaraan melaju dengan kecepatan kurang lebih 50/60 km/jam,di perkirakan sampai di tempat tujuan siang menjelang waktu dhuhur
Setibanya di rumah castamer pertama,mulailah aku bergegas merakit barang yang mereka pesan,kebetulan yang mereka beli itu adalah tredmil manual multi 42 fungsi,lumayan menyita waktu dan tenaga terperas keringat,butuh kurang lebih satu jam untuk merampungkan pemasangan alat olah raga itu,suasana pada siang hari waktu itu sangatlah panas,keringat berkucuran deras pun tak terasa keluar,bagai sumber mata air pegunungan yang mengalir deras terus menerus tapi tak kupedulikan karna selain waktu yang ku kejar,dilokasi tempat kerjapun telah menunggu campur tangan keahlianku,teman sepropesiku biasanya mengerti keadaan seperti itu jika teman yang lain sedang mengantarkan barang kiriman
Biasanya kalau siapa saja yang bertamu istilahnya ”Tamu Adalah Raja” selalu berlaku di tempat manapun tapi itu semua tak menghampiriku
“Ya iyalah kamu yang punya barang dan bertugas merakitnya,tapi kamu kan yang beli” (setan dan iblis saling menggerutu dalam hati)
Ternyata penggerutuan itu tetap tak membuahkan hasil untuk sekedar mendapatkan jamuan ringan dari sang pemilik rumah padahal dari awal aku sudah memberikan kode-kode etnik maupun jurus maut yang sedikit memaksa agar keluar sajian sekedar rasa penghilang dahaga,sedikit cerita kegitanku sebelum kerja tadi,dari pukul tujuh pagi setelah aku bangun dari tidur dan langsung mandi kegiatan extra memang telah menunggu ”Futsal” mungkin sebagian besar kita tau khususnya laki-laki olah raga yang satu ini selain menghisap cairan tubuh,tenaga yang terkuras pun tak sedikit apa lagi dengan cara olah bola yang saya peragakan ibarat pemain propesional ‘kaka’ kali yak??? burung kaka tua yaaa,akibatnya agak telat sedikit sih berangkat kerja tadi…..hahahahay
Selanjutnya rasa hauspun masih terbawa walau sudah sekian jam berlalu sampai akhirnya kebawa sampai rumah castmer yang saya pasangkan alat olah raga tredmil itu
dengan otomatis keringat yang di hasilkan tubuh setelah olah raga apalagi main bola sangatlah banyak,kuhilangkan rasa malu karna tak kuat kutahan rasa dahaga ini
“Pak,ada air putih gak pak….???”
(ucapku dengan nada mengharap karna tak kunjung keluar itu air minum,sudah capek rasanya bermacam-macam kode dan kata-kata memikat aku panahkan ke hadapanya tapi tak kunjung mengerti juga)
“Ohhh iya mas sampek lupa saya,bentar yaaa…???mas nya sih gak mau bilang dari tadi”
“Bapak aja yang gak sadar udah saya kasih kode-kode,masih aja blm paham “
(dalam hatiku nyeletuk)
ucap bapak yang bengong ngelihatku merakit barang yang segitu banyak macam nya tapi tak sedikitpun bingung
“Baru tau ternyata begitu ya mas cara pasangnya,manfaat dan penggunaan nya,maaf ya mas sampek kelupaan saya ngasih air minum nya”
(lanjut pembicaraan nya)
“Tak ku jawab cuman kubalas dengan cengiran sapi
(hmmm….pantesan ora mudeng)
gerutuku dalam hati
“Alhamdulillah es susu dua gelas Mannn….!!!” Hahahay
Langsung kusedot habis es susu satu gelas itu tanpa di suruh,aaahhhh….legaaa!!!
hampir rampung pemasangan alat masih saja keringat terus berkucuran deras,efek habis main futsal tadi kali yak,lantaran kasian atau gimana itu bapak kulihat seperti gimana gitu raut wajahnya,seketika dia mengucap dengan penuh ikhlas
“Minum saja mas es susunya yang satu gelas itu....???”
(ucapnya dengan penuh perhatian)
“Iya pak….” balas ucapku
Yang namanya rezeki tak boleh di tolak,santap lah rezeki nomplok ini namanya,kebetulan masih haus…….hahahaye
Ku pegang bulpoin vaktur penjualan beserta surat persetujuan credit dari pihak salah satu finace ternama,kutulis kukerjakan dan kuterima uang penbayaranya,meliputi uang muka dan pembayaran bulan pertama,ada uang lebihnya tapi tak mau di kembalikan,hehehehe
“Buat mas nya aja….”
ucapnya berterima kasih
(Baik juga ni ternyata orang padahal lebihnya lima puluh ribuan lo….rezeki lagiiii hihih)
Dan kupastikan semua pekerjaan telah usai tak ada barang atau alat penting lainya yang tertinggal karna terbawa suasana yang terburu-buru
“Udah berkeluarga mas…???”
(tiba-tiba seorang perempuan cantik menggendong bayi bertanya)
“Hah,belum bu….”
sautku malu-malu
“Udah punya pacar…???”
tanyanya lagi ingin tau
“Siapa yang mau bu sama saya….hehehe???”
balas ucapku merendah sambil senyum manis
“Alah mas nya ini bisa aja…hehehe!!!
kata ibu yang duduk di samping bapak sambil timang anaknya yang masih kecil
“Bodoh sekali ya,cewek-cewek jaman sekarang ini,gak ada yang mau sama orang kayak mas nya ,milih-milih sih mas iniiii….???”
“Belum sempat ku jawab…….”
“Coba kalo saya belum punya anak sama suami mau saya pacaran sama mas….hehehe!!!”
“Alamak” (dalam hatiku)
Suami ibu yang duduk di sampingnya itu nyengir sapi…..hahahaha,sudah tau istrinya itu hanya sekedar menghibur dan menggoda saja,cepat-cepat ku pamit karna dua castmer di antaranya sudah menunggu di sela-sela pemasangan alat tadi,silih berganti masing-masing castmer tersebut menghubungi bukan sekali tapi berkali-kali
“Ya udah bu/pak saya pamit dulu ya,masih ada yang harus di antar nie,makasih banyak ya…..!!!”
Ku ketatkan tekad dan niat agar melesat seperti rudal squot hasilku kan kudapat,kupacu motor ke tempat lokasi yang tak jauh dari tempat tersebut setengah jam kurang lebih,telah tuntas ku kerjakan walau agak kebablasan jalan sebentar,itu sudah cerita lama bagi orang seperti saya yang tidak terlalu hafal alamat,apalagi di kota orang seperti di lombok ini,tidak terlalu luas sih memang tapi namanya gak tau alamat gimana lagi,ya tanya orang kesana kemari,istilahnya nie yeee….???
“Malu bertanya sesat di jalan,tersesat di jalan bertanya lah” alahh-alahhhh
Giliran castmer ketiga yaitu yang terakhir mendapatkan jatah pengiriman,dari awal aku memang sudah tau orang yang pesan alat ini yaitu cewek cantik montok sexy bahenol menarik memikat apalagi yaaa aduhai dah pokoknya,semangat timbul secara sendirinya ketika arah laju motor akan menuju ke tempat singgahnya,tempat lokasinya berada di daerah senggigi,siapa yang gak tau daerah paling istimewa di pulau lombok itu,jangan bilang ente orang INDONESIA kalau gak tau daerah pariwisata yang terkenal di nusantara ini bahkan mungkin di mancanegara.
Walau jauh membentang berlawanan dari tempat lokasi pertama dan kedua,bagai dari kutub ujung selatan menuju kutub ujung utara,dengan cuaca suhu yang sangat panas terik matahari menyengat sampai tembus kelapisan jaket sport dan dua baju yang kukenakan salah satunya baju daleman,tetapi masih sangat kuat untuk tak berkeluh kesah karna aku tau setibanya di tempat seorang wanita cantik ini kerjaanku akan tuntas semua dan musnahlah beban-baban tugasku,dan yang pasti,akan terobati rasa lelah,tenaga terkuras,capek di jalan semua itu akan lenyap oleh hasil yang ku dapatkan syukur-syukur dapat pemandangan cewek berparas ayu,bening cakep di sana siapa tau kannn……rezeky buat mata juga kan ituuu??? Hahahahay
Tambah semangat ngegas laju lari motor,seperti biasa cerita lama kesasar jalan dan tak tau arah sudah menjadi langganan,setelah kutanya kebeberapa orang pribumi dan sampai akhirnya kutemukan alamat tersebut,tapi masih tidak langsung ketemu sama wanita cantik tersebut,untuk mempermudah menemukan nya aku call lah dia
“Halooo,mbak rikaaa….??? Saya sudah di Grand Felix Gg.Anyelir nie mbak,rumah dan cat pagarnya warna apa ya mbak???”
(tanyaku sambil clingak-clinguk kanan kiri)
“Ohhh….ya udah dech,saya keluar aja yaaa!!!
(jawabnya dengan nada manja)
Clinggg….!!!
(keluar sesosok wanita cantik dari pagar besi berwarna hitam,)
“Mas siniiii….???”
(kata target wanita yang saya cari itu,kebetulan wanita ini sudah hafal ciri fisik ku,jadi tak ragu untuk lagsung memanggil aku dan kali ini kata-katanya bukan dengan nada manja lagi tetapi sudah mulai menggunakan nada menggoda)
“Alamak bening benerrrr….”
(dalam hati sambil membalas dengan senyuman terbaik setelah melihatnya…...hehehe)
Di suguhin dengan pemandangan penampilan yang sedikit excotis membuat mata yang tadinya berwarna kemerah-merahkan lantaran terkena debu jalanan,seketika berubah menjadi segar bening karna melihat wujud yang sangat aduhai dan memikat tersebut,celana pendek yang membiarkan kedua paha mulusnya terbuka yang hanya cukup menutupi geal-geol bokongnya yang semok,berwarna putih kombinasi orange bunga-bunga khas busana pantai itu celana pendek yang dia kenakan,sedangkan kain yang menutupi bagian atasnya baju yukensi dengan banyak terbuka belahan dadanya yang hampir tak menutupi kurang dari setengah dada montok putihnya itu,terbiarkan menjadi pemandangan indah untuk tak di nikmati bagi kaum mata-mata yang suka jelalatan,pinggang nya yang ceking dan perut nya yang putih bersih terbiarkan terlihat,bagian tubuh yang menghubungkan antara baju yukensi dan celana pendeknya itu terbiarkan pula terlihat ( ya iyalah udelnya kelihatan) berwarna merah yang dia kenakan,rambut di biarkan terurai berantakan tapi tetap memikat seakan memberi pancaran yang terkesan sexy,menyebarkan aroma memikat bagi siapa saja khususnya kaum adam yang melihatnya,menelan ludah sendiri dalam-dalam untuk melepaskan hasrat terpendam
Sebelum masuk kedalam rumahnya kutata atur ulang terlebih dahulu senjata penikmatku,yang suatu saat akan dapat tiba-tiba meluncur dan menonjol,seperti memberikan balasan bagi musuh yang sudah dengan tiba-tiba menyerang dan memfoprokator terlebih dahulu lawanya,dan suatu saat dapat bergerak kencang tegang dengan tidak sopanya itu jika melihat pemandangan seperti itu,suatu hal yang wajar bagi semua laki-laki normal jika mengalami kejadian keadaan menakjubkan seperti yang saya alami ini
Laju motorku membawa diri ini masuk kedalam rumah,tak lama segera aku parkir motor dihalaman dekat jendela kamar,kulepas helm INK hitam dopku dan kuletakan di stang motor sebelah kanan menutup pas dengan doble stare,dan kemudian kulepas ikatan barang yang melekat erat dijock motor belakang,sebelum masuk kusempatkan memaksa mencerminkan muka wajah ini di kaca spion kiri motorku
“Kampret kucel banget muka ku……..”
(gerutuku mengeluh)
Aku ambil sapu tangan berwarna putih kombinasi coklat dari saku celana belakang di kantong sebelah kiriku,segera dan cepat tanggap aku usapkan ke seluruh bagian muka agar tak terlihat terlalu kucel,beberapa detik kemudian usaha membersihkan mukapun berhasil tanpa ada satu halangan sedikitpun,berharap raut paras wajah berubah menjadi cemerlang dari sebelumnya setidaknya sudah kelihatan lumayan menawan dari pada sebelumnya,tak mau ketinggalan pula rambutpun ingin juga di rapikan agar arahnya tak berlawanan dan tidak kelihatan berantakan
“Asemmm….sampai-sampai muka dan rambut pun tau,jelang berhadapan dan bertatapan dengan wanita cantikpun meminta harus memberikan kesan penampilan yang menawan,bersih,cemerlang dan rapi”
(alah-alahhhh…..kesel dehhhh hahahay)
Setelah yakin penampilanku tak seberantakan seketika aku baru sampai tempat tujuan ini tadi,barulah…..,,,
“Sini mas,MASUKIN….???”
(kata wanita cantik sexy tadi)
“Ahhh jangan buru-buru donk mbak,suka yang buru-buru yaaa...??? siang bolong lo ini mbak banyak tetangga lagi
( balasku dalam hati dengan pikiran kotor….hahahay)
“,,,,,,,,”
dan tak kujawab pertanyaan nya,sekedar kusaut dengan senyuman manisku
( gula kali yaaa….)”
Masuklah aku kedalam rumahnya yang sederhana namun banyak kamar seperti ruangan kost-kosan,yang memang ngontrak di perumaan tersebut,disinilah inti cerita tulisan corat-coret ini akan di mulai semakin bergairah menjabarkan dan memvisualisasikan nya tambah menarik dan berkesan,sampai akhirnya mempunyai ispirasi seperti ini,terlalu indah untuk di lupakan dan tak di kenang
Ketika langkah kaki ini melangkah satu persatu,ku lewat melalui pintu belakang,kebetulan di pintu depan waktu itu ada dua orang montir laki-laki yang sepertinya memperbaiki saluran antena televisi,jadi dengan hormat sang wanita cantik itu tadi meminta kepadaku untuk melewati jalur alternative nya yang dia pandu.
Terkejut sekalian terpana mata ini karna seketika tiba menginjakkan kaki ke pintu masuk belakang,diri ini sudah di suguhin oleh pemandang yang tak kalah excotis dari sebelum nya,wanita-wanita cantik dan sexi lain nya ternyata sudah menanti di dalam rumah tersebut untuk di nikmati pemandangan menariknya,bagai laut biru,pasir putih,tebing-tebing hijau yang menjalar dan membentang di kawasan senggigi seperti itulah elok nya yang tak kalah menyegarkan mata bagi siapa saja yang melihatnya
Tujuh bidadari mandi membersihkan diri di pegunungan air terjun,di hutan yang masih belantara bertelanjang melepas dan meninggalkan selendangnya masing-masing di tempat yang sama tapi tak menjadi satu, kisah cerita klasik yang masih eksis sampai sekarang ini,menggambarkan sebegitulah kondisi dan situasi di perumahan elit yang ada di kawasan senggigi saat itu,menarik mempesona penuh gairah memang,cuman bedanya tujuh wanita cantik penghuni istana teduh mereka ini,tak bertelanjang bulat sepenuhnya seperti bidadari dari kayangan tersebut melainkan hanya setengah telanjang saja
“enak di aku donk…hahahahaha”
Andai diantara mereka semua tiba-tiba menjelma dan membersihkan diri dengan,air bak kek,air sumur kek,air keran kek terus bertelanjang bulat mengelilingiku,inginku bukan hanya satu selendang baju atas bawah dan dalamnya saja yang pengen aku ambil melainkan semuanya supaya mereka dapat ku nikmati satu persatu pemandangan nya bukan yang lain nya……hahahahaha
“Serakah amattt,namanya juga menghayal,gak dilarangkan hahaha”
(kuat gak yak ini iman……wkwkwkw)
“Saya rakit disini gak apa pa kan mbak…???”
(tanyaku meminta ijin sama si mbak pembeli yang cantik itu)
“Iya mas,gak apa pa,di sini aja…sorry mas tempatnya sempit berantakan lagi!!!
”…….^_^ ”
Kali ini jawaban senyumku manis tapi rada bijaksana,cuek bebek,minder kurang percaya diri karna di kelilingi wanita-wanita cantik bening pula siapa yang tidak grogi,tapi tetap berusaha tenang dan berwibawa dewasa,melihat aku yang lumayan kesusahan melepaskan balutan lakban yang menjadi pelekat di kardus itu,seketika,,,,
“Saya ambilkan pisau ya masss…???”
(tanya mbak cantik yang membeli alat olah raganya)
“Waduh buat apa ya mbak…???”
(tanyaku pura-pura penasaran)
“Ya buat buka lakban nya itu tuuu….,masa ya buat nyunatin mas hehehe???
(jawabnya sambil menggoda)
“Wah kalo gitu abis donk mbak punya saya”
(dengan serentak kita semua yang ada di situ tertawa ngakak bareng)
“Mas aslinya mana kok ganteng banget putih lagi…????”
(tanya cwek lain nya sebut saja si A gak tau namanya soalnya,yang tak kalah sexi dan menarik juga pastinya)
“Alah mbak biasa aja,saya aslinya dari Djawa mbak”
(tanpa kukasih tau propinsi mana dan asal kotanya)
“Saya juga dari jawa lo mas….”
(kata cwek cantik satunya sebut saja si B)
(Waduh di serang pertanyaan oleh wanita-wanita sexy nie,dalam hati)
“Oooo iya mbak….???”
(tak ku lanjutkan pembicaraan nya)
“Mas kok cakep sekali sih jadi gregetan saya nie….???hehehehe”
(kata cewek yang lain nya sebut saja yang kali ini si C)
“Ah mbak ini berlebihan mujinya,,,,,,,,,hehehe”
(cuman bisa senyum nyengir sapi aj)
“Udah punya istri belum mas….???”
(kata cewek satunya lagi panggil aj yang ini si D)
“Hah,belum mbak….!!! teman cewek aja jarang mbak,boro-boro istri hehehe”
(ku jawab dan terselinggi dengan senyuman)
Berarti belum kawin donk mas……???
(saut cewek yang ada di sebelahnya sebut saja si E)
“,,,,,,,,,,”
(belum sempat ku jawab)
“Kawin nya udah sering,nikah nya aja itu masnya yang belum….hehehehe”
(kata cewek yang saya kasih nama si B tadi,dengan blak-blakan nya)
(seperti nya pipi kanan kiri ini makin mencolokkan warna merah merona pesona nya)
“Buktinya sampai saat ini belum ada cewek yang mau sama saya mbak….!!!”
(kataku menyambung pembicaraan)
Serempak membalas dengan kata
“ahhhh…. Yang beenerrrrrrr????”
Sadar dengan jawaban yang hampir selaras seperti paduan suara,sesama teman cewek cantik lainya beberapa detik saling memandang lalu tertawa sama-sama
Dan hanya ada satu cewek saja sebut saja dia si F yang tak menikmati suasana canda tawa itu,repot dan dengan sibuk nya dia otak atik phonsel qwerty nya dengan cuek tak merhatikan suasana sekitar hampir mirip kurang lebih seperti video lipsing briptu norman kemaruk yang lagi mengguncang jagad nusantara ini dan masih ngetren sampai saat ini
“Udah ah kalian ini mas nya di godain trus,nanti grogi lo….!!!”
(kata mbak yang beli alatnya)
di lanjutkan dengan pertanyaan nya
“AA mau minum apa….????”
(tawar si mbak cantik yang di anggap sama teman-teman lain nya paling di hargai)
“Gak usah repot-repot mbak,udah kok,,,,????”
(jawabku dengan rada gengsi dan malu-malu)
“Cieeehhh,,,,,,, AA!!!”
(bisik salah satu teman cweknya cantik lainnya)
Biasanya untuk pemasangan alat seperti yang mbak cantik ini pesan membutuhkan waktu kurang lebih hanya 5-10 menit saja dan itu sudah pasti rampung dan beres seluruh pemasangan nya,tapi lantaran pemandangan yang indah dan nikmat untuk tak di selami ini jadi sengaja ku buat seakan susah memasangnya hanya untuk berlama-lama di tempat itu………hahahaha,dasarrr!!!
Dan akhirnya tiba waktunya rampung pemasangan alat nya,seperti biasa langsung dengan sigap ku siapkan alat dan kebutuhan pembayaran nya,setelah ku pastikan lagi semua nya selesai tanpa ada barang yang ketinggalan,dan ku periksa ke dalam tas selendang tak ada barang yang kurang,semuanya akhirnya tuntas tas tas tasssss
“Udah semua nya kan mbak….???”
(tanyaku memastikan nya)
“Iya udah mas,tapi masak ya gak di peragain atau di kasih contoh gerakan alat nya gitu….???”
(tanya nya meminta bantuan)
“ Ohh ya mbak lupa……???”
Setelah selesai gerakan dan contoh peragaan kusampaikan,ada sedikit lelucon menggelitik yang tak sengaja mereka perempuan cantik itu sebutkan,ketika itu aku hendak berdiri dari duduk lantai setelah peragaan alat olah raga tadi,tak sengaja ku senggol badan montok sexy salah satu cewek cantik yang menyibukkan diri menggerombol menyaksikan action cara system kerja alat tersebut ketika meragakanya,layaknya pengambilan nada untuk menentukan dasar intonasi sebuah lagu
“K*NT*LLLL”
(Maap belum lulus sensor,hahahahahaha)
“Dasar cewek-cewek cantik penghibur”
Kelakuan mu gokil ucapmu dekil tapi tetap sexy cantik dan kelihatan centil,tak heran dan tak kaget dengan prilaku ulah gerak mereka selama aku berada di sana dan akhirnya aku dengan resmi meninggalkan singgasana megah nya itu,sadar dan memaklumi keadaan mereka yang selalu menaburkan wangi-wangi bunganya ketika malam indah datang menyabut untuk di sajikan kepada sang kumbang,keadaan yang memaksa mereka untuk melayang ke perpaduan untuk menghasilkan setetes madu dari hasil aromanya yang mereka jajakan,masa lalu yang retak membuat mereka memilih jalan alternative untuk mempermudah buat mereka menuju kedamaian sesaat.
Bagiku:
Kau tetap makhluk ciptaan Nya yang mempunyai derajat dan martabat
Kau tetap seorang insan hawa yang selalu bermanfaat untuk adam
Kau tetap manusia yang memiliki jiwa raga dan sanubari yang jernih
Kau tetap bidadari yang pantas dan berhak mencari dan mendampingi bidadara
Hakikatnya semua mahkluk ciptaan di hadapan Nya sama tanpa membedakan,tak ada yang rendah di mata Nya kecuali menyekutukan Nya
Sepertinya cukup sekian coretanku kali ini,sengaja tak kuceritakan secara real dan detil
hanya mencoba menceritakan inti nya saja,kuatir terlalu banyak untuk ukuran sebuah coretan.
Bidadari Terakhir
Malam itu, seharusnya bukan jadi malam milik gua. Malam yang
sesungguhnya bukanlah yang gua harapkan. Adit, temen kecil gua. Entah
harus bagaimana gua mengatakan? Tiba-tiba ketika habis pulang dari hang
out di kafe, mengarahkan motornya ke sebuah tempat yang mungkin baru
dalam hidup gua. Tempat pelacuran, ya.. semua juga tau kalau daerah yang
sedang gua injakkan kaki ini adalah daerah protistusi. Gua sempat
protes sama Adit, kenapa tiba-tiba ngajak gua ke tempat kayak ginian.
Umur gua kan masih 17 tahun dan baru aja dapat ktp resmi seumur-umur
hidup gua.
Gua gak bisa ngelarang teman gua untuk menyalurkan apa yang dia inginkan walaupun harus dengan cara seperti ini. yang terbaik buat gua adalah tidak ikut dalam permainan dia. Akhirnya kita berdua memarkirkan motor di sebuah rumah. Banyak cewek-cewek cantik yang berdiri sambil menggoda. Adit masuk, dan gua memutuskan untuk tunggu di luar. Sesekali dia nanya ke gua,
“ yakin loe gak mau coba? Gua bayarin deh!”
“ ogah, gua masih tahan iman, loe aja sana! Jangan pakai lama! Entar kalau digrebek polisi, disangka gua lagi yang mau!”
“ iya-iya, anteng aja loe disana.. “
Dengan wajah cemburut dan tatapan beberapa perempuan gua seperti orang bego yang nunggu diluar sambil megangan helm gua. Adit uda memilih cewek yang harus jadi teman dia malam itu. Gua menunggu di luar dan tiba-tiba salah satu cewek di dalam rumah itu keluar sambil menghisap rokok. Dia ngeliat gua, lalu menawarkan rokok kepada gua.
“ Enggak makasih, gua gak ngerokok “ kata gua menolak dengna harus.
“ Hah, jaman gini masih ada yang gak ngerokok.. aneh..” Tanya cewek itu dan gua hanya senyum-senyum.
Dia duduk disebelah gua, menatap mata gua dengan tajam sambil sesekali membuang asap rokok ke langit-langit atap.
“ Kok nunggu disini, ga ikutan aja sama temen kamu!”
“ Enggak , biarian aja si adit yang pengen,.. Cuma nemenin aja”
“ uda, loe sama gua aja mau? “
Gua memandang cewek disamping gua, sejujurnya dia cewek yang cantik, putih dan idaman gua. Tapi ketika dia menawarkan dirinya ke gua, tiba-tiba gua jadi ilfell. Kenapa cewek secantik ini harus menjadi seorang pelacur, dunia ini memang gak adil.
“ enggak mbak ,makasih”
“ uda maulah, gua kasih diskon.. “ tawar dia lagi.
“ beneran mbak, saya gak mau..” tolak gua dengan halus.
“ apes deh gua, daritadi gak ada yang mau ama gua..”
“ loh mbak kan cantik, kok ga ada yang mau..!”
“ ya nasib lah, namanya juga jualan, kadang laku, kadang kagak, malah gua lagi ada masalah lagi,,.”
Entah mengapa gua jadi merasa ingin tau masalah dia.
“ masalah apa mbak?” Tanya gua
“ umur loe berapa?” Tanya dia ke gua
“ masuk 17 tahun ini,., “
“ yailah, masih brondong, masih belum tau namanya dunia dewasa..” ledek dia.
“ kata siapa.. setiap orang punya masalah, gak mandang gede atau kecil umurnya..”
Dia melihat gua, mungkin dia merasa gua pinter merangkai kata-kata.
“kayanya loe bukan cowok brengsek ya.. beda sama cowok-cowok yang suka kesini Cuma pengen cari cewek buat kesenangan sesaat’
Gua tersenyum manyum dipuji dia.
“ Hehe, ga semua cowok brengsek kok mbak..
“ mungkin aja… hm.. gua lagi butuh duit..” kata dia tiba-tiba.
Dalam hati gua, mungkin ini masalah klasik. Kalau ga butuh duit, buat apa dia kerja sebagai pelacur.
“ Maaf kalau boleh tau, duit buat apa ya?”
“ nasib jadi orang miskin, selalu kena masalah, nyokap gua tiba-tiba ada benjolan di perut, kemarin sempat dibawah ke puskemas, kata dokter sih tumor ringan. Mesti cepat-cepat di operasi kata dokter, tapi ya tau sendiri Negara kita, apa-apa butuh duit. Ujung-ujungnya duit buat operasi. Makanya gua lagi sial, semingguan ini jarang dapat pelanggan. Apes..”
Entah mengapa, gua merasa, ada kejujuran dari apa yang cewek ini ngomongin. Dia gak seperti lagi sandiwara.
“ namanya mbak siapa?”
“ panggil gua Eva aja! Loe?”
“ Gua, Rasya.. “
Tiba-tiba kita terdiam, melihat wajahnya yang tampak sedih sehabis cerita kehidupan dia, gua merasa iba dan menawarkan dia setulus hati.
“ kalau eva emang butuh duit, gua ada, tapi gak banyak, kali-kali aja bisa bantuin nutupin kekurangan.”
Dia ngeliat gua.
“ loe kan masih 17tahun, mau dapat duit dari mana 1,5 juta kekurangang gue..”
“ oo, jadi kurangnya 1,5juta. Tenang aja Va, gua ada kok kalau segitu, tapi kalau sekarang.. gua ga bawa duitnya.. kalau besok gimana?”
Dia tertawa kecil.
“ gua sih uda biasa digombalin sama pelanggan. Tapi kalau digombalin berondong sih baru kali ini..” ledek dia.
“ sumpah gua ga bohong, gini aja, nomor hendphone loe berapa? Nanti besok gua telepon dan kasih duitnya, tapi jangan disini ya.. soalnya gua ga nyaman..”
“ terserah mau dimana, neh nomor gue..” kata dia sambil ngasih kertas dengan angka nomor telepon dia.
" inget loe, gua ini bukan orang baik. "
" gua juga bukan orang baik. tapi juga bukan orang jahat, gua dan loe hanya terlahir di dunia yang keduanya gak bisa kita hindari.."
Tiba-tiba adit selesai, dan dia langsung menuju gua. Sebelum adit ngajak gua pergi, gua pamitan sama eva. Dia tersenyum. Dari wajahnya gua tau, dia pasti berharap banget apa yang gua katakan ke dia itu benar. Walau sebenarnya gua sendiri ga punya duit sebanyak yang dia mau. Duit yang gua punya Cuma ada 900 ribu dan masih kurang 600 ribu buat ngasih ke eva. Akhirnya gua mesti nunggu seminggu hingga terkumpul 1,5 juta. Bermodalkan duit yang sesungguhnya hasil uang jajan gua. Akhirnya gua nelepon dia. Sebelum memastikan apa eva benar-benar sungguh-sungguh atau bohong, gua sempet survey ke psk sekitar tempat kerja eva dan hasilnya positif dia ga bohong makanya gua usahain duit terkumpul cepat.
Eva terkejut ketika gua nelepon dia, gua meminta janjian ketemu sama dia di kafe yang telah gua tentukan. Seumur-umur dalam hidup gua, baru kali ini gua beramal cukup besar untuk orang lain. Gua masukan duit itu dalam tas gua. Mungkin bonyok gua akan marah besar kalau tau duit jajan gua habis untuk dia. Tapi gua cukup beruntung terlahir dari keluarga yang mampu, jadi gua yakin. Bonyok gak akan tega biarin gua hidup tanpa duit sedikitpun andai gua bilang, gua butuh duit.
***
Eva muncul dengan pakaian yang lebih tertutup kebanding pertama kali gua lihat. Kita makan dan sesekali gua jelaskan kenapa gua baru hubungi dia dengan alasan sibuk ujian, padahal sesungguhya sibuk nabung untuk bantu dia. Eva mungkin gak pernah kepikiran kalau gua ngajak dia ketemu untuk bantu keuangan dia, dia lebih berpikir kalau gua ini ketemu dia sebagai seseorang yang membutuhkan dia seperti laki-laki lainnya.
Kita sempat jalan-jalan sebentar sampai akhirnya motor gua membawa dia ke pantai. Kebetulan mal di kota gua selalu dekat dengan pantai. Gua duduk disamping dia. Dia langsung menyodorkan pertanyaan.
“ sebenarnya , loe manggil gua untuk make gua? Atau temenin loe jalan sih?”
“ coba tebak?” Tanya gua.
“ dua-duanya juga ga masalah, gua uda lama gak jalan sama cowok. Terakhir pacaran juga apes. Dari sekian cowok yang nembak gua, Cuma dia yang gua terima. Ujung-ujungnya cowok emang brengsek. Cuma mau tidur sama gue.. makanya sejak sekarang gua mati rasa sama yang namanya cinta.. !”
“ loh kayaknya loe dendam banget ya sama cowok. Maaf loh kalau lancang, Cuma ngerasa gitu”
“ ngapain minta maaf, emang nasib gua kok. Terlahir sebagai cewek hina, miskin, keluarga berantakan. Lonte..” tiba-tiba eva nangis dengan kalimat terakhir itu.
“ loe nangis..” Tanya gua jadi ikut sedih.
“ lonte.. gua uda sering denger kalimat itu dari mulut orang lain buat gua, rasanya nyakitin banget. Asal loe tau , kalau aja dunia ini lebih indah dari yang gua mau. Gua juga gak mau jadi lonte.. siapa sih di dunia ini yang mau jadi pelacur, lonte. Ini karena terpaksa. Masih ada adik sama keluarga yang butuh gua untuk bertahan hidup..”
“ eva.. jangan nangis dong. Tujuan gua kesini, Cuma pengen ngasih ini..” kata gua sambil ngasih duit ke dia.
“ gua emang masih berondong seperti yang loe bilang, tapi gua juga punya hati. Walau hidup gua cukup, tapi gua mengerti perasaan loe.. mungkin Tuhan Cuma lagi kasih ujian buat hidup loe. Kalau pun itu berat saat ini, gua harap bantuan dari gua, bisa bantu meringankan beban loe..”
“ loe.. kenapa sih mau bantu gua.. kan gua ini bukan siapa-siapa loe, bukan temen loe. Bahkan bukan orang yang pantes kenal sama loe..” kata dia sambil menangis.
“ gua juga gak tau. Yang jelas, kita uda ditakdirkan buat jadi orang yang mengenal.. gua senang kok kenal sama loe. Sekarang pakai duit ini buat operasi nyokap loe ya,. Biar cepat sembuh dan loe bisa kerja yang lain.. bukan seperti sekarang..”
Dia terdiam sambil merenung.
“ kalau pun gua gak kerja kayak gini, gua juga uda pasti gak ada yang mau. Palingan laki-laki berengsek yang mau sama gua..”
“ kata siapa gak ada yang mau..”
“ ya kata gua lah.. mana ada sih yang mau sama bekas pelacur!! Bekas lonte…”
“ gua mau..”
Eva terdiam mendengar kalimat gua.
“ umur loe masih muda, belum tau yang namanya cinta. Ya sudah, terima kasih buat bantuan loe. Kelak kalau gua ada duit. Gua akan balikin duit ini.. sekali lagi, terimakasih”
“ sama-sama eva..”
Selang beberapa hari, eva sempat sms dan memberi kabar ke gua kalau nyokapnya sukses dengan operasi dia. Kita jadi rutin saling sms dan telepon hingga akhirnya dia ngundang gua ke rumah dia untuk bertemu nyokap dia. Gua menerima tawaran dia sekaligus ingin tau apakah benar kalau nyokap dia habis dioperasi. Ketika gua sampai kerumah, nyokapnya berlinang air mata ngucapin terima kasih, gua bersyukur ternyata eva jujur apa adanya. Dan yang paling gua senang, dia bilang ke gua, kalau dia lagi cari kerjaan buat hidup sebagai orang bersih.
Saat itu, tanpa sepengetahuan eva. Bokap tirinya tiba-tiba minjem duit ke gua, dia bilang buat bayar utang. Karena gua gak enak nolak, akhirnya gua kasih duit ke bokapnya tanpa sepentahuan eva. Gua juga sering bantuin ngaterin eva untuk cari kerjaan yang baik. Sampai akhinya dia dapat kerjaan sementara. Selama ini, keluarga dia gak tau kalau eva kerja sebagai pelacur, eva berusaha nutupi dan akhirnya lembaran gelap itu terkubur dengan sendirinya.
Tanpa kita sadari, gua dan eva samakin dekat. Setelah pendekatan itu, akhirnya kita menjadi sepasang kekasih. Mungkin cinta itu memang buta ya, baru kali ini gua merasakan cinta yang begitu dalam dari seorang perempuan di usia gua yang masih muda. Ketika dulu gua punya cinta monyet. Gua gak pernah ngerasa sebahagia ini selain bersama eva. Walaupun dia punya masa lalu kelam, cinta berhasil membuat gua menghapus semua pandangan buruk itu. Seminggu setelah jadian, dengang uang jajan yang gua kumpulin, gua membeli cincin yang sama untuk kita pakai sebagai lambang cinta. Buat eva mungkin ini aneh, tapi dia sadar, gua masih berondong dan pasti gaya pacarannya juga kayak sinetron di tv jadi dia maklumin.
Tapi sepanjang waktu kami pacaran, gua merasa eva semakin hari semakin kurus dan tubuhnya jadi lemes gitu, ketika gua Tanya ke dia, dia Cuma bilang kalau dia mungkin kecapean. Tapi sebenarnya ada hal yang gua takutkan dengan kondisi dia. Gua masih ingat, untuk memastikan kalau eva ga bohong pas bilang butuh duit, gua sempat kembali ke tempat pelacuran dia kerja, dan iseng-iseng gua ngobrol sama cewek disana tentang dia.
“ loe siapanya eva?”
“ temen aja mbak, kalau boleh tau, dia kan cantik, kok bisa ga ada pelanggan sih?”
“ nasib mas, eva kena penyakit sifilis( penyakit kelamin). Kayaknya banyak pelanggan yang uda tau dia itu kena penyakit gituan, makanya ga ada yang mau sama dia! Disini kan pesaingan ketat, ada yang bocorin gitu, makanya kasihan dia..”
“ kenapa ga berobat aja dia..?”
“ maunya sih gitu! Tapi nyokapnya kan sakit, jadi dia mati-matian cari duit buat nyokap dia dulu, baru nanti mikirin sembuhin penyakit dia.. “
“ kasihan ya..”
“ iya mas, susah hidup sekarang. Saya yang dulu anterin dia ke dokter aja jadi sedih kalau bayangin hidup dia..”
Dari apa yang teman dia bilang, gua jadi yakin kalau eva jadi kurus ini pasti karena penyakit dia dulu. Walau dia ga pernah mau cerita ke gua, mungkin karena dia takut. Kalau dia penyakitan maka gua akan ninggalin dia. Padahal gua gak pernah peduli dengan sakitnya dia. Sakit eva makin buruk sampai akhirnya dia ga kerja. Gua akhirnya nyamperin ke rumah, dan dia ga bisa bangun karena tiba-tiba tubuhnya jadi kayak lumpuh gitu.
Saat itu juga gua putuskan untuk bawa dia ke rumah sakit, dia sempat menolak.
“ Rasya, rumah sakit itu mahal, orang miskin kayak gua kalau sakit itu ga ada keadilan, jadi biarin aja gua minum obat biasa, nanti juga sembuh”
“ loe itu uda gak bisa bangun. Gak usah pikirin duit. Gua ada tabungan, yang penting sekarang kita ke rumah sakit.”
Dengan penuh kesedihan, akhirnya eva gak bisa nolak kemauan gua. Gua menggendong dia sampai ke rumah sakit, dia dirawat dan dokter mengatakan ke gua dengan berat hati kalau eva sudah kenapa sifilis akut dan seluruh tubuhnya uda terkontiminasi sama sel-sel neurosifilis yang kemungkinan sembuhnya kecil. Dengan penuh air mata gua memohon kepada dokter untuk sembuhin dia. Gua dan nyokap serta adiknya saling bergantian jaga dia. Saat itu lagi ujian akhir kelulusan sekolah, gua harus bertahan dalam dua hal. Konsetrasi ke ujian dan konsetrasi ke eva.
Mungkin kedua cobaan itu berat tapi akhirnya gua berhasil mengerjakan semua ujian yang datang silih berganti bersamaan dengan waktu gua menjaga eva. Eva semakin kritis. Dia gak banyak bicara lagi seperti sebelumnya. Sepertinya dia tau, hidup dia tidak akan lama lagi. Dia nyerahin sebuah diary ke gua. Dimana disana dia bilang hanya boleh dibaca setelah tiba saatnya nanti.
“ jangan dibuka ya sampai nanti kalau gua uda ga bisa bangun lagi..”
“ kok loe ngomong gitu..”
“ Sya, mungkin.. selama ini gua gak pernah jujur tentang panyakit gua, tapi gua Cuma ga mau kalau loe tau gua punya penyakit ini, loe ninggalin gua. Ternyata gua salah, loe benar-benar hadiah paling indah dalam hidup ini yang dikasih Tuhan buat gua. Gua pikir.. Tuhan gak akan pernah ngasih kebahagiaan buat gua karena memang gua ga pantes. Ternyata gua salah, Tuhan itu adil. Dan keadilan itu dia tunjukkan lewat loe..”
“ jangan ngomong gitu eva.. gua yang harusnya bersyukur punya pacar seperti loe dalam hidup gua, loe benar-benar anugrah..loe harus kuat ya, kita sama-sama berjuang untuk kebahagiaan kita..”
Eva hanya menangis mendengar gua bicara begitu. Gua pun menangis. Entah mengapa, gua seperti merasa ini adalah ujung dari akhir kisah kami.
“ sya, gua mau minta tolong satu hal lagi sama loe. .boleh?”
“ ngomong aja eva, kita kan pacaran, terbuka aja..”
“ gua gak punya apa-apa untuk ngasih loe sebagai balasan atas kebaikan loe, tapi gua Cuma punya ini.. bisa loe ambil kalung ini dari leher gua, soalnya.. tangan gua uda gak bisa bergerak lagi..”
“ kenapa bicara begitu.?”
“plz.. ambill” dengan berat hati gua melepas kalung itu dan mengambilnya.
“ disimpan ya.. sama buku harian yang gua tulis itu..”
“ iya eva.. tadi kamu bilang mau minta tolong, kenapa gak dilanjutkan?”
“ kalau gua mati, tolong jangan kubur gua di sini, gua mau dikubur di tanah kelahiran gua.. bisa..”
Mendengar kalimat itu dari mulut dia. Hati gua hancur. Gua gak tau harus bagaiman mengungkapkan kata-kata yang pantas untuk membuat gua bangkit dan percaya kalau dia akan sembuh. Gua hanya bisa menangis dan mengiyakan permintaan dia. Karena ada ujian lagi di besok. Gua pamitan sama dia. Gua mencium kening dia dan dengan berat hati saat itulah gua merasa ini terakhir kalianya gua akan melihat dia.
Dengan penuh tangis, gua pulang dan berharap Tuhan sekali lagi memberikan keadilan untuk hidup dia. Besoknya gua ujian terakhir dan ketika gua ingin jenguk dia, gua melihat sudah banyak orang di kamar dia di rawat. Semua menangis dan disitulah gua tau, eva telah pergi untuk selamanya. Gua hanya bisa tertunduk lesuh dan menangis dalam hati. Berat rasanya harus melepas kebahagiaan sesaat yang ada dalam hidup gua. Permintaan terakhirnya untuk di makamkan di tanah kelahirannya gua lakukan sebagai tanda cinta terindah dalam hidup gua untuk dia.
Kini, gua menyadari bahwa. Hidup itu sesungguhnya tidak pernah memihak kepada siapapun di dunia ini. tapi hidup itu membuat kita hanya bisa memihak kepada satu hal, bertahan untuk hidup dengan segala cara apapun. Eva mungkin telah berjuang hidup dengan ketidakberpihakan hidup tapi ia berhasil membuktikan kepada gua kalau disaat akhir hidupnya, dia benar-benar merasakan keadilan hidup sesungguhnya. Dengan cinta dan kasih sayang murni tanpa air mata penderitaan. dia mampu mengubah dirinya yang dulu adalah makluk hina menjadi seorang bidadari , walaupun itu hanya di hati gua, tapi gua percaya kelak semua orang akan setuju dengan apa yang gua bilang kalau dia adalah bidadari terakhir yang hidup di dunia ini
Gua gak bisa ngelarang teman gua untuk menyalurkan apa yang dia inginkan walaupun harus dengan cara seperti ini. yang terbaik buat gua adalah tidak ikut dalam permainan dia. Akhirnya kita berdua memarkirkan motor di sebuah rumah. Banyak cewek-cewek cantik yang berdiri sambil menggoda. Adit masuk, dan gua memutuskan untuk tunggu di luar. Sesekali dia nanya ke gua,
“ yakin loe gak mau coba? Gua bayarin deh!”
“ ogah, gua masih tahan iman, loe aja sana! Jangan pakai lama! Entar kalau digrebek polisi, disangka gua lagi yang mau!”
“ iya-iya, anteng aja loe disana.. “
Dengan wajah cemburut dan tatapan beberapa perempuan gua seperti orang bego yang nunggu diluar sambil megangan helm gua. Adit uda memilih cewek yang harus jadi teman dia malam itu. Gua menunggu di luar dan tiba-tiba salah satu cewek di dalam rumah itu keluar sambil menghisap rokok. Dia ngeliat gua, lalu menawarkan rokok kepada gua.
“ Enggak makasih, gua gak ngerokok “ kata gua menolak dengna harus.
“ Hah, jaman gini masih ada yang gak ngerokok.. aneh..” Tanya cewek itu dan gua hanya senyum-senyum.
Dia duduk disebelah gua, menatap mata gua dengan tajam sambil sesekali membuang asap rokok ke langit-langit atap.
“ Kok nunggu disini, ga ikutan aja sama temen kamu!”
“ Enggak , biarian aja si adit yang pengen,.. Cuma nemenin aja”
“ uda, loe sama gua aja mau? “
Gua memandang cewek disamping gua, sejujurnya dia cewek yang cantik, putih dan idaman gua. Tapi ketika dia menawarkan dirinya ke gua, tiba-tiba gua jadi ilfell. Kenapa cewek secantik ini harus menjadi seorang pelacur, dunia ini memang gak adil.
“ enggak mbak ,makasih”
“ uda maulah, gua kasih diskon.. “ tawar dia lagi.
“ beneran mbak, saya gak mau..” tolak gua dengan halus.
“ apes deh gua, daritadi gak ada yang mau ama gua..”
“ loh mbak kan cantik, kok ga ada yang mau..!”
“ ya nasib lah, namanya juga jualan, kadang laku, kadang kagak, malah gua lagi ada masalah lagi,,.”
Entah mengapa gua jadi merasa ingin tau masalah dia.
“ masalah apa mbak?” Tanya gua
“ umur loe berapa?” Tanya dia ke gua
“ masuk 17 tahun ini,., “
“ yailah, masih brondong, masih belum tau namanya dunia dewasa..” ledek dia.
“ kata siapa.. setiap orang punya masalah, gak mandang gede atau kecil umurnya..”
Dia melihat gua, mungkin dia merasa gua pinter merangkai kata-kata.
“kayanya loe bukan cowok brengsek ya.. beda sama cowok-cowok yang suka kesini Cuma pengen cari cewek buat kesenangan sesaat’
Gua tersenyum manyum dipuji dia.
“ Hehe, ga semua cowok brengsek kok mbak..
“ mungkin aja… hm.. gua lagi butuh duit..” kata dia tiba-tiba.
Dalam hati gua, mungkin ini masalah klasik. Kalau ga butuh duit, buat apa dia kerja sebagai pelacur.
“ Maaf kalau boleh tau, duit buat apa ya?”
“ nasib jadi orang miskin, selalu kena masalah, nyokap gua tiba-tiba ada benjolan di perut, kemarin sempat dibawah ke puskemas, kata dokter sih tumor ringan. Mesti cepat-cepat di operasi kata dokter, tapi ya tau sendiri Negara kita, apa-apa butuh duit. Ujung-ujungnya duit buat operasi. Makanya gua lagi sial, semingguan ini jarang dapat pelanggan. Apes..”
Entah mengapa, gua merasa, ada kejujuran dari apa yang cewek ini ngomongin. Dia gak seperti lagi sandiwara.
“ namanya mbak siapa?”
“ panggil gua Eva aja! Loe?”
“ Gua, Rasya.. “
Tiba-tiba kita terdiam, melihat wajahnya yang tampak sedih sehabis cerita kehidupan dia, gua merasa iba dan menawarkan dia setulus hati.
“ kalau eva emang butuh duit, gua ada, tapi gak banyak, kali-kali aja bisa bantuin nutupin kekurangan.”
Dia ngeliat gua.
“ loe kan masih 17tahun, mau dapat duit dari mana 1,5 juta kekurangang gue..”
“ oo, jadi kurangnya 1,5juta. Tenang aja Va, gua ada kok kalau segitu, tapi kalau sekarang.. gua ga bawa duitnya.. kalau besok gimana?”
Dia tertawa kecil.
“ gua sih uda biasa digombalin sama pelanggan. Tapi kalau digombalin berondong sih baru kali ini..” ledek dia.
“ sumpah gua ga bohong, gini aja, nomor hendphone loe berapa? Nanti besok gua telepon dan kasih duitnya, tapi jangan disini ya.. soalnya gua ga nyaman..”
“ terserah mau dimana, neh nomor gue..” kata dia sambil ngasih kertas dengan angka nomor telepon dia.
" inget loe, gua ini bukan orang baik. "
" gua juga bukan orang baik. tapi juga bukan orang jahat, gua dan loe hanya terlahir di dunia yang keduanya gak bisa kita hindari.."
Tiba-tiba adit selesai, dan dia langsung menuju gua. Sebelum adit ngajak gua pergi, gua pamitan sama eva. Dia tersenyum. Dari wajahnya gua tau, dia pasti berharap banget apa yang gua katakan ke dia itu benar. Walau sebenarnya gua sendiri ga punya duit sebanyak yang dia mau. Duit yang gua punya Cuma ada 900 ribu dan masih kurang 600 ribu buat ngasih ke eva. Akhirnya gua mesti nunggu seminggu hingga terkumpul 1,5 juta. Bermodalkan duit yang sesungguhnya hasil uang jajan gua. Akhirnya gua nelepon dia. Sebelum memastikan apa eva benar-benar sungguh-sungguh atau bohong, gua sempet survey ke psk sekitar tempat kerja eva dan hasilnya positif dia ga bohong makanya gua usahain duit terkumpul cepat.
Eva terkejut ketika gua nelepon dia, gua meminta janjian ketemu sama dia di kafe yang telah gua tentukan. Seumur-umur dalam hidup gua, baru kali ini gua beramal cukup besar untuk orang lain. Gua masukan duit itu dalam tas gua. Mungkin bonyok gua akan marah besar kalau tau duit jajan gua habis untuk dia. Tapi gua cukup beruntung terlahir dari keluarga yang mampu, jadi gua yakin. Bonyok gak akan tega biarin gua hidup tanpa duit sedikitpun andai gua bilang, gua butuh duit.
***
Eva muncul dengan pakaian yang lebih tertutup kebanding pertama kali gua lihat. Kita makan dan sesekali gua jelaskan kenapa gua baru hubungi dia dengan alasan sibuk ujian, padahal sesungguhya sibuk nabung untuk bantu dia. Eva mungkin gak pernah kepikiran kalau gua ngajak dia ketemu untuk bantu keuangan dia, dia lebih berpikir kalau gua ini ketemu dia sebagai seseorang yang membutuhkan dia seperti laki-laki lainnya.
Kita sempat jalan-jalan sebentar sampai akhirnya motor gua membawa dia ke pantai. Kebetulan mal di kota gua selalu dekat dengan pantai. Gua duduk disamping dia. Dia langsung menyodorkan pertanyaan.
“ sebenarnya , loe manggil gua untuk make gua? Atau temenin loe jalan sih?”
“ coba tebak?” Tanya gua.
“ dua-duanya juga ga masalah, gua uda lama gak jalan sama cowok. Terakhir pacaran juga apes. Dari sekian cowok yang nembak gua, Cuma dia yang gua terima. Ujung-ujungnya cowok emang brengsek. Cuma mau tidur sama gue.. makanya sejak sekarang gua mati rasa sama yang namanya cinta.. !”
“ loh kayaknya loe dendam banget ya sama cowok. Maaf loh kalau lancang, Cuma ngerasa gitu”
“ ngapain minta maaf, emang nasib gua kok. Terlahir sebagai cewek hina, miskin, keluarga berantakan. Lonte..” tiba-tiba eva nangis dengan kalimat terakhir itu.
“ loe nangis..” Tanya gua jadi ikut sedih.
“ lonte.. gua uda sering denger kalimat itu dari mulut orang lain buat gua, rasanya nyakitin banget. Asal loe tau , kalau aja dunia ini lebih indah dari yang gua mau. Gua juga gak mau jadi lonte.. siapa sih di dunia ini yang mau jadi pelacur, lonte. Ini karena terpaksa. Masih ada adik sama keluarga yang butuh gua untuk bertahan hidup..”
“ eva.. jangan nangis dong. Tujuan gua kesini, Cuma pengen ngasih ini..” kata gua sambil ngasih duit ke dia.
“ gua emang masih berondong seperti yang loe bilang, tapi gua juga punya hati. Walau hidup gua cukup, tapi gua mengerti perasaan loe.. mungkin Tuhan Cuma lagi kasih ujian buat hidup loe. Kalau pun itu berat saat ini, gua harap bantuan dari gua, bisa bantu meringankan beban loe..”
“ loe.. kenapa sih mau bantu gua.. kan gua ini bukan siapa-siapa loe, bukan temen loe. Bahkan bukan orang yang pantes kenal sama loe..” kata dia sambil menangis.
“ gua juga gak tau. Yang jelas, kita uda ditakdirkan buat jadi orang yang mengenal.. gua senang kok kenal sama loe. Sekarang pakai duit ini buat operasi nyokap loe ya,. Biar cepat sembuh dan loe bisa kerja yang lain.. bukan seperti sekarang..”
Dia terdiam sambil merenung.
“ kalau pun gua gak kerja kayak gini, gua juga uda pasti gak ada yang mau. Palingan laki-laki berengsek yang mau sama gua..”
“ kata siapa gak ada yang mau..”
“ ya kata gua lah.. mana ada sih yang mau sama bekas pelacur!! Bekas lonte…”
“ gua mau..”
Eva terdiam mendengar kalimat gua.
“ umur loe masih muda, belum tau yang namanya cinta. Ya sudah, terima kasih buat bantuan loe. Kelak kalau gua ada duit. Gua akan balikin duit ini.. sekali lagi, terimakasih”
“ sama-sama eva..”
Selang beberapa hari, eva sempat sms dan memberi kabar ke gua kalau nyokapnya sukses dengan operasi dia. Kita jadi rutin saling sms dan telepon hingga akhirnya dia ngundang gua ke rumah dia untuk bertemu nyokap dia. Gua menerima tawaran dia sekaligus ingin tau apakah benar kalau nyokap dia habis dioperasi. Ketika gua sampai kerumah, nyokapnya berlinang air mata ngucapin terima kasih, gua bersyukur ternyata eva jujur apa adanya. Dan yang paling gua senang, dia bilang ke gua, kalau dia lagi cari kerjaan buat hidup sebagai orang bersih.
Saat itu, tanpa sepengetahuan eva. Bokap tirinya tiba-tiba minjem duit ke gua, dia bilang buat bayar utang. Karena gua gak enak nolak, akhirnya gua kasih duit ke bokapnya tanpa sepentahuan eva. Gua juga sering bantuin ngaterin eva untuk cari kerjaan yang baik. Sampai akhinya dia dapat kerjaan sementara. Selama ini, keluarga dia gak tau kalau eva kerja sebagai pelacur, eva berusaha nutupi dan akhirnya lembaran gelap itu terkubur dengan sendirinya.
Tanpa kita sadari, gua dan eva samakin dekat. Setelah pendekatan itu, akhirnya kita menjadi sepasang kekasih. Mungkin cinta itu memang buta ya, baru kali ini gua merasakan cinta yang begitu dalam dari seorang perempuan di usia gua yang masih muda. Ketika dulu gua punya cinta monyet. Gua gak pernah ngerasa sebahagia ini selain bersama eva. Walaupun dia punya masa lalu kelam, cinta berhasil membuat gua menghapus semua pandangan buruk itu. Seminggu setelah jadian, dengang uang jajan yang gua kumpulin, gua membeli cincin yang sama untuk kita pakai sebagai lambang cinta. Buat eva mungkin ini aneh, tapi dia sadar, gua masih berondong dan pasti gaya pacarannya juga kayak sinetron di tv jadi dia maklumin.
Tapi sepanjang waktu kami pacaran, gua merasa eva semakin hari semakin kurus dan tubuhnya jadi lemes gitu, ketika gua Tanya ke dia, dia Cuma bilang kalau dia mungkin kecapean. Tapi sebenarnya ada hal yang gua takutkan dengan kondisi dia. Gua masih ingat, untuk memastikan kalau eva ga bohong pas bilang butuh duit, gua sempat kembali ke tempat pelacuran dia kerja, dan iseng-iseng gua ngobrol sama cewek disana tentang dia.
“ loe siapanya eva?”
“ temen aja mbak, kalau boleh tau, dia kan cantik, kok bisa ga ada pelanggan sih?”
“ nasib mas, eva kena penyakit sifilis( penyakit kelamin). Kayaknya banyak pelanggan yang uda tau dia itu kena penyakit gituan, makanya ga ada yang mau sama dia! Disini kan pesaingan ketat, ada yang bocorin gitu, makanya kasihan dia..”
“ kenapa ga berobat aja dia..?”
“ maunya sih gitu! Tapi nyokapnya kan sakit, jadi dia mati-matian cari duit buat nyokap dia dulu, baru nanti mikirin sembuhin penyakit dia.. “
“ kasihan ya..”
“ iya mas, susah hidup sekarang. Saya yang dulu anterin dia ke dokter aja jadi sedih kalau bayangin hidup dia..”
Dari apa yang teman dia bilang, gua jadi yakin kalau eva jadi kurus ini pasti karena penyakit dia dulu. Walau dia ga pernah mau cerita ke gua, mungkin karena dia takut. Kalau dia penyakitan maka gua akan ninggalin dia. Padahal gua gak pernah peduli dengan sakitnya dia. Sakit eva makin buruk sampai akhirnya dia ga kerja. Gua akhirnya nyamperin ke rumah, dan dia ga bisa bangun karena tiba-tiba tubuhnya jadi kayak lumpuh gitu.
Saat itu juga gua putuskan untuk bawa dia ke rumah sakit, dia sempat menolak.
“ Rasya, rumah sakit itu mahal, orang miskin kayak gua kalau sakit itu ga ada keadilan, jadi biarin aja gua minum obat biasa, nanti juga sembuh”
“ loe itu uda gak bisa bangun. Gak usah pikirin duit. Gua ada tabungan, yang penting sekarang kita ke rumah sakit.”
Dengan penuh kesedihan, akhirnya eva gak bisa nolak kemauan gua. Gua menggendong dia sampai ke rumah sakit, dia dirawat dan dokter mengatakan ke gua dengan berat hati kalau eva sudah kenapa sifilis akut dan seluruh tubuhnya uda terkontiminasi sama sel-sel neurosifilis yang kemungkinan sembuhnya kecil. Dengan penuh air mata gua memohon kepada dokter untuk sembuhin dia. Gua dan nyokap serta adiknya saling bergantian jaga dia. Saat itu lagi ujian akhir kelulusan sekolah, gua harus bertahan dalam dua hal. Konsetrasi ke ujian dan konsetrasi ke eva.
Mungkin kedua cobaan itu berat tapi akhirnya gua berhasil mengerjakan semua ujian yang datang silih berganti bersamaan dengan waktu gua menjaga eva. Eva semakin kritis. Dia gak banyak bicara lagi seperti sebelumnya. Sepertinya dia tau, hidup dia tidak akan lama lagi. Dia nyerahin sebuah diary ke gua. Dimana disana dia bilang hanya boleh dibaca setelah tiba saatnya nanti.
“ jangan dibuka ya sampai nanti kalau gua uda ga bisa bangun lagi..”
“ kok loe ngomong gitu..”
“ Sya, mungkin.. selama ini gua gak pernah jujur tentang panyakit gua, tapi gua Cuma ga mau kalau loe tau gua punya penyakit ini, loe ninggalin gua. Ternyata gua salah, loe benar-benar hadiah paling indah dalam hidup ini yang dikasih Tuhan buat gua. Gua pikir.. Tuhan gak akan pernah ngasih kebahagiaan buat gua karena memang gua ga pantes. Ternyata gua salah, Tuhan itu adil. Dan keadilan itu dia tunjukkan lewat loe..”
“ jangan ngomong gitu eva.. gua yang harusnya bersyukur punya pacar seperti loe dalam hidup gua, loe benar-benar anugrah..loe harus kuat ya, kita sama-sama berjuang untuk kebahagiaan kita..”
Eva hanya menangis mendengar gua bicara begitu. Gua pun menangis. Entah mengapa, gua seperti merasa ini adalah ujung dari akhir kisah kami.
“ sya, gua mau minta tolong satu hal lagi sama loe. .boleh?”
“ ngomong aja eva, kita kan pacaran, terbuka aja..”
“ gua gak punya apa-apa untuk ngasih loe sebagai balasan atas kebaikan loe, tapi gua Cuma punya ini.. bisa loe ambil kalung ini dari leher gua, soalnya.. tangan gua uda gak bisa bergerak lagi..”
“ kenapa bicara begitu.?”
“plz.. ambill” dengan berat hati gua melepas kalung itu dan mengambilnya.
“ disimpan ya.. sama buku harian yang gua tulis itu..”
“ iya eva.. tadi kamu bilang mau minta tolong, kenapa gak dilanjutkan?”
“ kalau gua mati, tolong jangan kubur gua di sini, gua mau dikubur di tanah kelahiran gua.. bisa..”
Mendengar kalimat itu dari mulut dia. Hati gua hancur. Gua gak tau harus bagaiman mengungkapkan kata-kata yang pantas untuk membuat gua bangkit dan percaya kalau dia akan sembuh. Gua hanya bisa menangis dan mengiyakan permintaan dia. Karena ada ujian lagi di besok. Gua pamitan sama dia. Gua mencium kening dia dan dengan berat hati saat itulah gua merasa ini terakhir kalianya gua akan melihat dia.
Dengan penuh tangis, gua pulang dan berharap Tuhan sekali lagi memberikan keadilan untuk hidup dia. Besoknya gua ujian terakhir dan ketika gua ingin jenguk dia, gua melihat sudah banyak orang di kamar dia di rawat. Semua menangis dan disitulah gua tau, eva telah pergi untuk selamanya. Gua hanya bisa tertunduk lesuh dan menangis dalam hati. Berat rasanya harus melepas kebahagiaan sesaat yang ada dalam hidup gua. Permintaan terakhirnya untuk di makamkan di tanah kelahirannya gua lakukan sebagai tanda cinta terindah dalam hidup gua untuk dia.
Kini, gua menyadari bahwa. Hidup itu sesungguhnya tidak pernah memihak kepada siapapun di dunia ini. tapi hidup itu membuat kita hanya bisa memihak kepada satu hal, bertahan untuk hidup dengan segala cara apapun. Eva mungkin telah berjuang hidup dengan ketidakberpihakan hidup tapi ia berhasil membuktikan kepada gua kalau disaat akhir hidupnya, dia benar-benar merasakan keadilan hidup sesungguhnya. Dengan cinta dan kasih sayang murni tanpa air mata penderitaan. dia mampu mengubah dirinya yang dulu adalah makluk hina menjadi seorang bidadari , walaupun itu hanya di hati gua, tapi gua percaya kelak semua orang akan setuju dengan apa yang gua bilang kalau dia adalah bidadari terakhir yang hidup di dunia ini
Senin, 21 Oktober 2013
Kring… kring… kring suara jam berdering kencang bagaikan petir yang menyambar di kamar Feli. Feli pun perlahan-lahan membuka matanya. Hari ini aku ngantuk banget tapi aku harus bangun. karena hari ini pertama kalinya aku menerima mata pelajaran di bangku perkuliahan. Feli pun segera bergegas bangun untuk mepersiapkan dirinya untuk segera berangkat ke kampus. Setelah Feli selesai mandi Felipun menata barang-barang bawaanya untuk dibawanya ke kampus. Di saat itu pula Feli tiba-tiba melamun dan di dalam hatinya ia pun berkata, andai aku bisa masuk di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Yogja, pasti aku akan senang tapi ternyata Tuhan berkata lain, aahh… tapi mungkin Tuhan telah memberikan yang terbaik untukku walaupun Feli berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya tapi Feli harus tetap bersyukur karena bagaimanapun juga masih banyak orang-orang di luar sana yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya di bangku perkuliahan yang disebabkan karena berbagai alasan, tapi Feli lain dari mereka, walau Feli dibesarkan dari keluarga sederhana tapi Feli masih bisa berkuliah walaupun dengan bantuan kak Doni. Akhirnya Feli pun tiba-tiba tersadar dari lamunannya. Ia pun segera bergegas menuju ruang makan untuk sarapan pagi bersama keluarga kecilnya.
Pagi ayah, pagi ibu, pagi kak doni. Feli pun berusaha tersenyum walau di hatinya masih tersimpan kegundahan akibat tidak keterimanya ia di salah satu Perguruan Tinggi di Yogja. Ayah Feli pun sangat senang melihat putrinya kembali ceria. Wah gitu dong anak ayah semangat untuk menuntut ilmu di bangku perkuliahan. Jawab ayah Feli dengan penuh canda tawa. Ayah Feli memang sudah 2 tahun tidak bekerja lagi karena memang beliau sudah memasuki masa pensiunan PNS tetapi ayah Feli beruntung mempunyai anak seperti kakak Feli karena kakak Feli memang sangat pandai hingga akhirnya kakak Feli dapat bekerja disalah satu BUMN yang ada di surabaya. Sehingga kakak Feli yang mendanai kebutuhan sekolah Feli, sedangkan ibu Feli memang tidak bekerja tetapi hanya sekedar sebagai ibu rumah tangga, tetapi walau keluarga Feli adalah keluarga sederhana tetapi keluarga ini sangat damai dan sangat asyik.
Ayah, ibu, kak doni Feli sudah selesai sarapan saatnya Feli pamit untuk berangkat. Ia pun segera berpamitan kepada ayah, ibu serta kakaknya dan ia pun segera mencium tangan mereka dan Feli pun segera bergegas untuk berangkat ke kampus. Suara mesin motor Feli pun terdengar sangat kencang ibarat suara ombak yang terdengar sangat dasyat di telinga keluarga Feli dan Feli pun segera melajukan motornya dengan sangat cepat. Alhamdulilah akhirnya Feli sampai juga di kampus. Ia pun segera bersiap-siap menuju kelas. Sesampainya Feli di kelas Feli pun segera berkenalan dengan teman-teman barunya dan selesainya Feli berkenalan dengan teman-temanya Feli pun segera memasuki awal pembelajaran di bangku perkuliahan.
Ah… gak terasa Alhamdulila usai sudah kuliah pertamaku. Akhirnya Feli pun segera bergegas untuk segera kembali menuju rumahnya. Sesampai di rumah Feli, ia pun menceritakan pengalaman pertamanya selama dibangku perkuliahan kepada ayah serta ibunya dan dengan senang hati mereka mau mendengarkan cerita anaknya itu.
Hari pun tak terasa telah berganti dan pagi pun tak terasa telah berganti malam. Di malam yang dingin itu pula, Feli pun termenung di sebuah ruang kamarnya yang menjadi tempat favoritnya. Ia pun berkata di dalam lubuk hatinya andai aku tak terlahir sesempurna tubuh yang aku miliki ini di saat itu pula aku ingin bertanya apakah masih ada orang-orang yang bertoleransi pada perbedaan tubuhku ini dan di saat itu pula aku kan mulai tau siapa orang yang selalu ada untukku di saat tubuhku terlahir dengan penuh kekurangan. Feli pun tak berhenti sampai disitu merenungi kehidupannya. Ia pun segera melanjutkan lamunannya dan Feli pun berkata mungkin aku bukan orang yang sepandai kak Doni tetapi walaupun aku terlahir tak sepandai kak Doni tapi aku masih punya mimpi yang aku ingin capai yakni menjadi seorang penulis yang terkenal dan aku pun yakin bisa menembus mimpi itu. Tak lama kemudian Feli pun membuyarkan lamunannya dan ia pun segera mengambil selimutnya dan segera bergegas untuk tidur karena ia bahwa besok ia akan melanjutkan aktifitasnya untuk menuntut ilmu di bangku perkuliahan.
Suara kicauan burung pun telah menyambut datangnya pagi hari dan saatnya Feli segera bangun dan ia pun dengan perlahan-lahan tak terasa telah membuka matanya. Feli pun segera turun dari tempat tidurnya. Dan ia pun segera mandi tuk segera melanjutkan perjalanan pencarian segudang ilmunya di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya. Selesainya Feli mandi di saat itu pula Feli segera mempersiapkan barang-barang yang akan ia bawa menuju kampus. Di saat Feli mulai menata barang bawaannya di waktu itulah Feli merasakan kegundahan yang sangat amat mendalam yang entah mengapa Feli tidak mengetahui apa arti dari semua ini, tetapi Feli berusaha untuk menghilangkan kegundahan hatinya dan ia pun segera menuju ruang makan untuk melakukan sarapan pagi bersama keluarganya.
Selamat pagi adikku… kok mukanya kusut seperti baju yang gak pernah disetrika. Kakak Feli pun melontarkan celotehannya kepada adiknya dan Feli pun menjawab celotehan kakaknya dengan sedikit menghibur kakaknya bahwa tidak terjadi apa-apa terhadap adiknya Feli, Feli pun menjawab dengan berkata, tidak ada apa-apa kok kak Doni, Cuma Feli lagi ngantuk aja makanya Feli masang muka kusut hehehe… jawab Feli dengan canda tawa. Ayah serta ibu Feli pun tertawa melihat celotehan anak-anaknya.
Selesai sarapan Feli pun segera berpamitan kepada ayah, ibu serta kakaknya untuk segera berangkat pergi ke kampus. Feli pun menaiki motornya dengan rasa yang cukup was-was yang entah mengapa Feli tidak tau apa arti dari semua itu. Roda motor Feli pun terus melaju kencang ibarat angin yang sangat kencang yang dinginnya menusuk pada tubuh manusia, tanpa sadar Feli pun melamuni tentang perasaan yang datang menghampiri Feli semenjak bangun tidur tadi.
Sesampainya di lampu lalu lintas Feli pun tanpa sadar telah menerobos lalu lintas yang seharusnya mengharuskan Feli tuk berhenti tetapi Feli malah tanpa sadar telah menerobos lampu yang berwarna merah itu. Dan tiba-tiba ia tersadar dari lamunanya katika mobil berwarna merah itu telah melaju cepat di hadapan mata Feli dan ia pun sangat terkejut serta ia tak mampu menghindari mobil merah itu, akhirnya Feli pun terlempar cukup jauh sehingga mengakibatkan ia tak sadarkan diri. Tak lama kemudian banyak orang-orang yang menghampiri Feli dan tak lama kemudian mereka langsung membawa Feli ke Rumah Sakit Swasta yang ada di Surabaya yang dikarenakan Rumah Sakit Swasta itu paling dekat dari tempat kejadian maut itu. Serta kejadian maut itu mengakibatkan 3 orang luka-luka serta mengakibatkan kemacetan yang luar biasa hebatnya bagaikan kereta api yang menghapiri jalan raya itu.
Tanpa terasa pagi pun telah berganti malam dan hari itu pun merupakan hari yang sangat membuat Feli terpukul karena ia mengalami perbedaan di kehidupannya yang tidak akan ia lupakan seumur hidupnya. Jam telah menunjukkan pukul 19.00 WIB, tiba-tiba sedikit demi sedikit Feli membuka matanya, keluarga Feli sangat senang melihat Feli telah sadarkan diri tetapi di samping kesenangan itu, keluarga Feli juga mengalami tekanan hati yang tidak tau bagaimana cara untuk membicarakan hal tersebut kepada Feli tapi mereka sadar cepat atau lambat Feli akan mengetahui hal yang menimpa kaki Feli pada salah satu kaki kirinya bahwa kaki kirinya telah diamputasi yang dikarenakan akibat benturan yang cukup keras pada kaki kirinya pada saat kecelakaan maut pagi tadi yang menimpah Feli. Sehingga kaki Feli mengalami infeksi yang mengakibatkan kaki kirinya harus diamputasi agar Feli dapat bertahan hidup tetapi jika keluarga Feli tidak merelakan kaki kiri Feli maka mengakibatkan infeksi itu menjalar ke tubuh Feli dan bila itu terjadi maka tidak lama lagi Feli akan meninggal dunia, setelah mendengar dokter menyarankan amputasi pada kaki kiri Feli tanpa pikir panjang keluarga Feli menyetujui persyaratan dokter tersebut, walau hati mereka terasa sedih mendengar perkataan dokter tersebut. Bagaikan hati mereka teriris-iris pisau yang sangat tajam.
Pada saat Feli sadar dari masa kritisnya ia pun terkejut melihat tubuhnya terbaring lemah di rumah sakit. Tetapi di saat itu pula Feli teringat kejadian pagi tadi yang mengakibatkan ia terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Feli pun begitu kebingungan di saat keluarga Feli terus menangisinya. Ia pun berkata kepada keluarganya, bahwa Feli tidak apa-apa dan ia menyakinkan kepada keluarganya bahwa ia pasti akan segera sembuh dan pada saat itu Feli belum mengetahui keadaan kakinya yang telah diamputasi. Ayah Feli pun tiba-tiba membuka suaranya dengan berkata, Feli yang sabar ya sayang… Allah telah memberi cobaan untuk Feli karena Ayah yakin dengan kejadian ini Allah telah merencanakan sesuatu yang indah pada suatu saat nanti dan Feli harus mengikhlaskan salah satu kaki Feli yang harus dokter amputasi karena dengan jalan itu Feli dapat bertahan hidup. Mendengar kata-kata ayah Feli, ia pun tak terasa meneteskan air matanya yang menetesi pipi Feli dan tak lama kemudian ia pun menangis sangat histeris sehingga membuat keluarga Feli berusaha untuk menenangkan diri Feli.
Satu minggu sudah Feli tidak masuk kuliah dan dihari itu pula Feli mendapat kaki barunya yakni kaki buatan yang sengaja dibeli kak Doni agar Feli dapat beraktifitas lagi. Di saat itulah Feli berkata di dalam lubuk hatinya, aku tidak menyangka bahwa perbedaan itu telah hadir menghampiri aku dan ternyata lamunanku yang aku takuti terdahulu menjadi sebuah kenyataan hanya yang membedakan Feli mengalami perbedaan bukan di saat Feli terlahir tetapi di saat Feli menginjak usia 18 tahun. Ia pun kembali bersedih dan terluka di saat Feli merenungi hal yang terjadi pada dirinya.
Tiba saatnya Feli harus segera berangkat tuk melanjutkan aktifitas kuliahnya dan Feli pun sangat terpukul melihat keadaan yang dihadapinya, dia takut bila teman-temanya tidak bertoleransi tehadap perbedaan yang Feli hadapi sekarang. Memang, Feli belum memberi tau kepada teman-temanya bahwa kaki kirinya telah diamputasi karena memang Feli tak sanggup mengatakan kejadian yang sesunggunya yang menimpa diri Feli tetapi Feli hanya memberi tau teman-temanya hanya sebuah kecelakaan biasa yang menyebabkan dirinya tidak dapat berkuliah sementara waktu.
Sesampainya di kampus dengan berkendara mobil yang dikendarai oleh kakaknya, Feli pun segera diantar oleh kakaknya untuk menuju kelas Feli. Setibanya ia di kelas teman-teman Feli sangat terkejut melihat keadaan Feli yang memakai kaki palsu, ada beberapa dari mereka yang mengejek Feli tanpa memperdulikan hati Feli dan ada juga teman-temannya yang masih bertoleransi terhadap perbedaan yang Feli hadapi sekarang. Feli pun berusaha tenang terhadap celotehan sebagian teman-teman Feli yang tidak bertoleransi baik terhadap perbedaan yang dihadapi Feli.
Hari demi hari Feli lalui dan bulan demi bulan juga Feli lalui dengan keadaanya yang ia hadapi sekarang, tetapi Feli berusaha untuk bersyukur serta bersabar tetapi terkadang Feli tidak tahan terhadap keadaan yang dihadapinya. Hingga di suatu malam ia pun termenung di kamarnya dan tak lama kemudian kakak Feli ingin menghibur adiknya dan kak doni pun berjalan menuju kamar Feli.
Tok… tok… tok… suara pintu kamar Felisehingga membuyarkan lamunan Feli. Ia pun berkata siapa dan kak doni pun membalas perkataan adiknya, kak doni pun berkata ini kak doni adikku sayang, boleh kak doni masuk. Feli pun menjawab iya kak doni gak apa-apa masuk saja Feli lagi gak sibuk kok. Kak doni pun memasuki kamar Feli dan kak Doni pun segera menghampiri adiknya yang termenung di jendela kamarnya yang mungil itu. Kak doni pun segera berkata, Feli kenapa Feli sedih, lebih baik Feli cerita ke kakak apa yang membuat Feli merenungi dibalik jendela kamar Feli dengan bercerita maka Feli setidaknya sedikit lega. Feli pun mulai membuka mulutnya untuk menceritakan hal-hal apa saja yang membuat Feli sedih. Ia pun berkata, kak doni apa mungkin masih ada kesempatan untuk Feli dalam menggapai sebuah kesuksesan, karena Feli berpikir bahwa dengan perbedaan yang Feli miliki apa mungkin Feli bisa menjadi seseorang yang berguna di mata orang, karena Feli takut bila Feli terlalu berharap sesuatu yang indah, Feli takut tidak bisa menggapainya. Feli memang mempunyai sebuah mimpi tapi apa mungkin orang-orang bisa bertoleransi di dalam perbedaan yang Feli alami. Itulah yang membuat Feli takut tuk menatap masa depan Feli.
Kakak Feli pun memahami perasaan adiknya, dan kak Doni pun berusaha untuk memberi harapan kepada Feli dengan berkata, Kak Doni tau perasaan Feli, tetapi Feli harus tau walaupun Feli berbeda dari mereka tapi inilah saatnya Feli tunjukkan kepada semua orang bahwa dengan perbedaan yang Feli alami tidak membuat Feli berputus asa dan tunjukkan kepada semua orang bahwa Feli dapat menembus dunia yang kelam menjadi sebuah anugerah yang indah suatu saat nanti, dan tunjukkan pada dunia bahwa perbedaan yang Feli alami telah membuat kehidupan Feli lebih baik karena berkat adanya sebuah perbedaan, dan asal Feli tau dengan Feli menunjukkan kelebihan Feli dibalik perbedaan yang Feli alami, maka akan banyak membuat orang semakin lebih bertoleransi terhadap diri Feli, serta jika Feli telah mampu menembus mimpi Feli suatu hari nanti, maka janganlah Feli takut menghadapi hinaan orang-orang yang tidak menyukai Feli yang dikarenakan adanya perbedaan di diri Feli. karena sesungguhnya Feli telah menjadi manusia yang lebih dari mereka. Feli pun sangat senang mendengar kata-kata yang penuh inspirasi dari kak Doni dan ia pun sangat lega mendengarnya serta ia pun bersyukur kepada Allah karena ia memiliki kakak yang sangat baik seperti kak Doni.
Hari pun terus berganti tetapi dengan berbekal motivasi yang didapat dari kakaknya Feli dapat lebih berani melangkahkan kakinya ke dalam kehidupan yang ingin lebih baik dari sebelumnya. karena Feli yakin jika ia berusaha maka ia yakin bahwa perbedaan itu mampu menembus dunia kelamnya. Ia pun ingin sekali menjadi seorang penulis yang terkenal suatu hari nanti.
Tiba saatnya Feli menginjak semester dua dan inilah saatnya ia berusaha untuk menggali potensi karya tulisnya dengan berusaha mencari segundang pengalaman baik yang ada di kampus maupun di luar sana. karena Feli ingin menunjukkan pada dunia bahwa ia bisa sukses karena sebuah perbedaan dan ia berharap dengan berbedaan yang ia miliki saat ini ia bisa lebih berusaha untuk maju dan terus melangkah agar nantinya ia bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi, serta jika ia selalu berusaha meraih mimpinya pasti ia mampu menjadikan orang-orang yang terdahulu menghinanya dapat lebih bertoleransi kepadaanya, berkat sebuah perbedaan yang Feli alami saat ini, dan Feli pun berharap jika ia sukses nanti ia dapat memberikan motifasi terhadap semua orang bahwa dalam menggapai kesuksesan asalkan kita mau berusaha maka tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini karena kesuksesan berawal dari sebuah mimpi.
Tibalah saatnya Feli menempuh kelulusan dan tanpa disangka di saat Feli selesai mengakhiri acara wisudanya, di saat itu pula ada salah satu dosen laki-laki yang menghampirinya, dengan memberi tau tentang kabar baik untuk Feli yaitu ada salah satu perusahaan penerbit yang cukup terkenal di Jakarta yang menawarkan pekerjaan kepada Feli dibidang tulis menulis dan Feli pun sangat senang mendengar semua itu. Tanpa bepikir panjang ia pun langsung menerima tawaran perusahaan tersebut, mendengar semua itu dosen yang menghampiri Feli pun langsung senang dan lega mendengar perkataan Feli.
Berkat usaha yang Feli bangunlah dan berkat perusahaan tersebut lah Feli sekarang menjadi seorang penulis yang terkenal bahkan Feli sering kali muncul di acara televisi dan disaat itu pula Feli dapat menunjukkan kepada semua orang bahwa dengan perbedaan yang ia alami saat ini sudah mampu menembus dunia kelamnya menuju dunia yang sangat bersinar bagaikan bintang terang yang menyinari bumi di malam hari. Keluarga Feli pun sangat senang melihat kesuksesan anak yang mereka cintai.
Penderitaan adalah lambang kekuatan jiwa, tak akan aku tukarkan penderitaan ini dengan sukacita manusia. Jiwaku menemukan ketenangan manakala hatiku bersukacita menerima himpitan kesusahan dan kesesakan kehidupan. Hatiku terpenuhi kegembiraan, manakala aku bersukaria dalam derita-Nya. Hanya satu tujuan hidupku, membuat DIA selalu tersenyum di sepanjang kehidupan…
Andi Suryadi
Pagi yang cerah mengiringi hari ini, sinar mentari dengan hangat dan penuh kelembutan meresap dalam setubuh seorang kakek tua, ia begitu menikmati belaian hangat sang mentari. Dalam keterbatasan fisiknya, tak terlihat wajah kelemahan terpancar dari wajahnya. Padahal ia kini hanya dapat terduduk lemah di atas kursi rodanya, kakinya sudah tak dapat lagi menopang tubuhnya. Tangannya tak lagi sekuat dulu, bahkan hanya bagian yang kiri saja yang masih dapat ia gerakkan. Pandangannya telah menjadi kabur di akibatkan penyakit katarak yang kini hinggap. Penyakit sroke yang ia derita telah menyebabkan sebagian tubuhnya tidak dapat digerakkan secara normal. Di tambah dengan penyakit diabetes yang telah lama hinggap di dalam tubuhnya, yang tak kunjung ada kesembuhan.
Sepeninggal istrinya yang begitu menyayangi dan setia menemaninya, kini ia tinggal di sebuah panti jompo. Walaupun ia memiliki tiga orang anak yang terdiri dari dua orang laki-laki dan satu orang perempuan, namun tak seorang pun yang mau merawatnya. Semuanya mundur secara teratur manakala di tunjuk untuk merawatnya, mereka beralasan hanya merepotkan mengurus seorang tua renta yang sakit-sakitan. Oleh sebab itu mereka kemudian mengirim laki-laki tua itu di sebuah panti jompo yang bernama “Panti Kasih Tiada Batas” yang di asuh oleh sepasang keluarga muda yang telah mengabdikan diri sejak sepuluh tahun yang lalu. Panti ini dahulunya adalah rumah tempat tinggal mereka yang asri dan luas. Panti ini terletak di jalan kecil yang bernama Jalan Gotong Royong dengan akses jalan besarnya yaitu jalan Sudirman.
“Selamat pagi pak Andi” sebuah sapaan lembut menyapa kakek tua yang ternyata bernama pak Andi,
“Se..se.lamat pagi, nak Aryo dan nak pipit” Jawabnya dengan nada yang terbata-bata,
“Bagaimana kabarnya pak? Tadi sudah sarapan?” Tanya pipit penuh kelmbutan,
Pak Andi hanya menganggukkan kepalanya,
“Sudah di minum obatnya, pak?” lanjutnya “Jika sudah, sekarang bapak istirahat yah, sebab matahari sudah mulai terik”
“Baik nak Pipit, terimakasih” Pak Andi pun menjawab, dan Pipit kemudian membantunya mendorongkan kursi rodanya menuju ruang paviliun.
Disana ada pula beberapa orang kakek dan nenek tua yang sedang asyik menonton acara televisi, di antaranya pak Muharam, pak Liem, pak Zakaria dan ibu Kulsum serta ibu Yanti. Tampak keceriaan hadir disana, manakala mereka menonton sebuah film komedi yang di bintangi oleh almarhum Benyamin. Pak Andi pun larut dalam keceriaan dan hal itu telah mengobati kerinduan di hatinya yang berharap dapat bersama dengan anak dan cucunya, dalam sisa masa hidupnya.
Sore itu setelah melaksanakan sembahyang, pak Andi duduk di pinggir jendela. Tampak tatapan matanya kosong, ia menerawang alam sekeliling seakan ia mencari sesuatu yang teramat berarti dalam hidupnya. Sesekali terlihat linangan airmata membasahi pipinya dan tarikan nafasnya yang panjang pun terdengar begitu berat… Aku rindu engkau Fiona istriku, aku tahu engkau kini bahagia di surga-Nya. Sungguh Fiona, engkau adalah yang terbaik yang telah Allah anugerahkan dalam hidupku. Kesetiaan dan kasihmu begitu terasa olehku, aku teramat bersyukur telah Allah titipkan engkau dalam kehidupanku. Lihatlah aku sekarang kasihku?, di senja usiaku, kini aku dalam kesunyian, dimanakah mereka buah cinta kita? Hanya engkau yang setia dan mengasihiku apa adanya bukan ada apanya. Sayang, bawalah aku serta di taman surga yang telah Allah berikan kepadamu… ti.. tidak, aku tidak boleh menangisi apa yang telah dan sedang terjadi padaku, engkau kini telah bahagia dan tak selayaknya aku menghancurkan kebahagianmu. Aku tahu engkau pun menantikan kedatanganku… pasti sayang, aku akan datang kepadamu dan kita akan bersama kembali… Fiona sayang, bersabarlah suatu saat nanti aku pasti akan datang menemui engkau dan bahkan engkau yang akan menjemput dan mengahantarku di tanah perhentian… namun, Allah masih memberikan padaku untuk sebuah tugas terakhir sebelum masa waktuku berakhir… dan aku masih belum mengerti dan memahami akan tugas itu.. namun aku akan tetap melakukannya tanpa harus aku memahami… dalam tarikan nafas yang ku hirup, aku masih dapat merasakan cinta dan kasihmu… terimakasih sayang atas semua kasih yang telah engkau curahkan kepadaku, anak-anak dan seluruh keluarga kita… selamat sore Fiona sayang… dan linangan airmatanya semakin deras membasahi pipinya… ia pun terhanyut dalam elegi rindunya…
“Malam pak Andi, bagaimana sudah makan malam?” tanya Aryo,
“Malam nak Aryo, sudah tadi” Jawabnya sambil menganggukkan kepala,
“Sekarang di minum obatnya yah pak” lanjutnya dengan penuh perhatian
Setelah meminum obatnya, pak Andi menarik tangan Aryo, dan berkata,
“Nak Aryo, terimakasih yah atas semuanya. Andai saja putra-putri saya memiliki hati yang penuh perhatian seperti nak Aryo tentunya bahagia sekali hati ini” Katanya sambil mengelus air mata yang mulai berlinang membasahi pipinya,
“Sungguh nak Aryo, saya tidak meminta uang atau pun harta, cukup bagi saya adalah perhatian dan kasih mereka. Dan saya pun masih memiliki sedikit simpanan, sisa setelah saya bagikan harta yang saya punyai kepada mereka. Saya tidak ingin harta mereka… nak Aryo, apa benar saya hanya merepotkan?” tanyanya dengan lirih,
“Tidak pak Andi, sungguh bapak tidak merepotkan. Malah membuat hati kami bahagia dan kami sangat senang apalagi kami masih diberi kesempatan untuk berbagi kasih” Jawab Aryo sambil mengusap airmata yang membasahi pipi pak Andi, lanjutnya,
“Pak, saya dan istri telah di tinggal oleh kedua orangtua kami masing-masing semenjak usia kami masih muda. Dan kami berharap untuk dapat merawat mereka pada masa tuanya, namun Tuhan berkehendak lain. Tetapi kerinduan hati kami terjawab sudah oleh-Nya, dengan merawat bapak dan yang lainnya seakan-akan telah menghadirkan kembali sosok kedua orangtua kami. Bapak jangan banyak memikirkan yang lain yah pak, lebih baik bapak bersukacita dan nikmati sisa hidup ini, kami bangga dapat merawat bapak” Dengan penuh perhatian dan kelembutan Aryo menjawab
“Iya nak Aryo, maaf bapak yang terbawa dalam kerinduan hati… terimakasih banyak nak! Telah menguatkan hati bapak” Pak Andi pun berucap,
“Baiklah pak, sekarang istirahat yah, mari saya bantu ke kasur” Kata Aryo sambil mengulurkan tangannya,
“Tidak usah nak Aryo, saya harus terus belajar untuk dapat mandiri” Kilah pak Andi, dan dengan halus menolak bantuan Aryo,
Dengan agak susah payah ia geser kursi rodanya untuk lebih dekat pada bibir kasur, dan dengan semangat yang tinggi ia berusaha keras merengkuh kasur dan mendorongkan badannya. Dengan usahanya yang keras akhirnya tubuh pak Andi pun dengan lembut mendarat di atas kasur, Aryo yang sedari tadi memperhatikan tersenyum dalam hati ia bergumam “…luarbiasa pak Andi ini, semangat hidupnya begitu tinggi”
“Pak Andi, sekarang tidur yah, saya hendak menengok yang lain. Selamat tidur pak Andi” Ucap Aryo sambil berlalu meninggalkan Pak Andi dalam keheningan malam.
Malam mulai larut, namun tiba-tiba mata Pak Andi terbuka dan ia terbangunkan dari sebuah mimpi… ada apakah ini? pikirnya dalam hati. Ia pun merenungkan dari mimpi yang telah terjadi, dimana dalam mimpinya, ia melihat salah satu cucunya tertabrak kendaraan dan saat itu ia melintas di sekitar tempat kejadian, ia memangku cucunya dan membawanya, namun nyawa cucunya tak tertolong, ia menghebuskan nafasnya yang terakhir dalam pangkuannya. Apakah arti mipiku ini? begitulah pikirannya menerawang. Ia pun lantas berdoa kepada Tuhan memohonkan untuk menjauhkan hal-hal buruk menimpa semua cucu dan anak-anaknya.
Ingatannya membawa kembali pada perlakuan anak-anaknya terhadap dirinya dimana tiga tahun yang lalu sebelum ia terdampar di panti asuhan ini. Ia tinggal di rumah anaknya yang tertua yang adalah seorang pengusaha dan telah di karunia tiga orang anak yang lucu dan manis. Namun hanya karena ia senantiasa menyenggol perabotan hingga suatu ketika sebuah guci kesayangan anaknya, tak sengaja tersenggol dan akhirnya pecah. Dan ia pun masih mengingat bagaimana kata-katanya,
“Pa! tahu ngga berapa harga guci ini? di bayar dengan seluruh uang pensiun papa pun tak akan kebayar, dasar tua bangka! Saya, untuk mendapatkan guci ini saja sangat susah payah, tahu nggak ini barang antik dan langka… seharusnya papa tahu diri! dan lebih hati-hati. Ini, sudah nggak bisa apa-apa masih saja mau keluyuran, kenapa tidak diam saja di kamar?” umpat anaknya,
“Iya nih tua bangka! Kemarin-kemarin gelas kristalku yang berharga jutaan rupiah, kini guci antik yang harganya saja selangit. Papa kan sudah tahu dilarang masuk ruangan keluarga, kenapa bandel juga?” Istri Ardy pun ikut menghardiknya
“Ma…ma..ma.. maafkan papa, Ardy dan Nancy, papa hanya ingin bermain dengan Mitchel. Apakah_” Belum bicaranya selesai, dengan kasarnya Ardy memotong,
“Sudah!… sudah…! Saya tidak mau dengar lagi alasan!… mulai hari ini juga beresin pakaian papa!, Ardy sudah tidak mau melihat papa lagi… tua bangka! Hanya merepotkan saja” Bentaknya sambil mendorong kursi roda ayahnya menuju kamar dan membereskan seluruh pakaian ayahnya.
“Benar Pih! Aku sangat setuju dengan pendapat papi” Nancy pun turut mendukung suaminya
Ia pun membawa ayahnya ke rumah adik nya. Andryansah adalah seorang pengacara yang banyak menangani kasus-kasus korupsi besar dan kasus besar lainnya, namun setelah mendengar apa yang sudah terjadi di rumah kakaknya ia pun dengan keras menolak untuk merawat ayah mereka. Akhirnya mereka menelepon adik mereka yang bungsu, yang di wakili oleh yang sulung.
“Halo…Devi, kamu lagi dimana?” Ardy langsung bertanya,
“Yah halo kak Ardy, ada apa kak?” Devi berkata dan kemudian bertanya,
“Begini, kamu bisa kan datang ke rumah Andry sekarang?” Lanjut Ardy,
“Saya lagi di mall kak! Tapi tidak jauh dari tempat kak Andry, memang ada apa. Sepertinya serius sekali” Devi menjawab sambil mereka-reka
“Pokoknya kamu sekarang kesini, penting!” Perintah Ardy,
“Baik-baik Kak! Saya segera kesana” lanjut Devi dengan sedikit kesal, namun ia menahannya sebab selama ini kedua kakaknya selalu membantu kehidupannya, dimana suaminya hanyalah seorang pegawai biasa yang dapat mencukupi kebiasaannya yang konsumtif.
Sesampainya di tempat Andry, tanpa basa-basi lagi mereka sepakat untuk menyimpan papa mereka di panti asuhan dan untuk biaya selama di sana mereka membebankan kepada papa mereka sendiri. Sisa uang yang ada di tabungan papanya, mereka paksa kepada papanya untuk dikeluarkan dengan alasan untuk biaya berobat. Papanya hanya terdiam dengan perlakuan mereka dan ia hanya dapat menangis di dalam hatinya.
Ahhhh… Aku sudah mengampuni mereka Tuhan… Aku telah mengampuni perlakuan mereka… ampuni mereka Tuhan sebab mereka tidak mengerti… jauhkan padaku untuk ingatan-ingatan seperti ini… Tuhan, Engkau adalah Tuhan yang mahapengampun, ampuni anak-anak hamba-mu ini… perbuatlah apa yang Engkau kehendaki kepada tubuh dan hidup hamba-Mu ini, dan jangan Engkau timpakan kehangatan murka-Mu kepada anak-anakku, cucu-cucuku dan seluruh keluarganya… cukuplah hanya kepada aku, hamba-Mu ini.. ia pun kembali berusaha untuk memejamkan matanya dan berharap sang fajar segera menyapa tubuhnya dengan penuh kelembutan.
—
Pagi ini tidak seperti biasanya Pak Andi tidak pergi ke halaman belakang untuk berjemur, setelah sarapan pagi ia lebih banyak berdiam diri di kamarnya dengan sesekali berusaha membaca Kitab Suci yang agak samar untuk di baca. Namun ia berusaha keras untuk dapat membacanya, dengan lebih banyak menggunakan mata kirinya yang masih agak sedikit normal, ia terus berupaya dan sesekali terdengar permohonannya kepada Tuhan agar diberikan kemudahan dalam membaca Kitab Suci ini. Di tengah kekhusuannya, terdengar ketukan kecil dan suara dari balik pintu dengan penuh kelembutan,
“Selamat pagi Pak Andi, maaf apabila saya mengganggu sejenak” Ucap sebuah suara dari balik pintu,
Pak Andi pun menghentikan sejenak kegiatannya dan menghampiri suara itu, dan ia pun membuka pintu sambil berkata,
“Selamat pagi, sama sekali tidak mengganggu”
“Eh, nak Pipit dan nak Aryo, silahkan masuk? lanjutnya, mempersilakan masuk
“Terimakasih pak Andi” Jawab Aryo “Oh, yah pak, kenalkan ini adalah Dokter Agung dokter spesialis bedah, yang bertugas di rumah sakit terkenal di kota ini” yang kemudian memperkenalkan seseorang kepada pak Andi,
Pak Andi nampak kebingungan dan ini trelihat dari lipatan yang nampak di dahinya. Dalam hatinya bertanya, “…apakah aku hendak dioperasi, tapi apanya yang di operasi?…” Belum hilang rasa bingungnya, pria yang bernama Agung itu kemudian menghampiri pak Andi. Dengan berjongkok ia raih tangan kiri pak Andi dan menempelkannya di dahinya, seraya berkata,
“Pak, saya Agung… mudah-mudahan bapak masih dapat mengingat akan saya, dulu sewaktu saya masih kecil pernah di tolong oleh bapak”
“…” Bertambah bingung lah pak Andi setelah mendengar ucapan itu kemudian ia pun mencari-cari dalam memori ingatannya, tentang siapakah gerangan orang yang berada dihadapannya ini.
“Maaf nak, siapa tadi?”
“Saya Agung, pak Andi”
“Agung… Agung… yang mana yah… dan yang pernah saya tolong? Dimana dan kapan?… maaf nak Agung, sungguh saya tak dapat mengingatnya karena, saya tidak pernah mau mengingat apa, dimana dan siapa yang telah saya tolong dalam kehidupan saya”
“Maaf pak Andi, mungkin bapak akan mengingatnya manakala dulu di depan Statsiun Kereta Api tepatnya di kedai bu Wanti. Setiap makan siang bapak selalu menyemirkan sepatu bapak kepada seorang anak kecil, walaupun sepatu bapak masih bersih, masih saja bapak menginginkan anak itu untuk membersihkan sepatu bapak. Selain memberi uang jasa yang sungguh pak! lebih dari tarip, bapak juga memberikan anak itu makan siang gratis” kembali Agung berkata sambil memceritakan sebuah kisah sebagai sarana untuk membantu ingatan pak Andi.
“Kedai Ibu Wanti… depan statsiun… anak kecil… anak kecil… anak kecil… tan… tan… iya.. ya.. saya ingat sekarang, anak kecil yang mempunyai tanda kecoklatan dan bintik hitam di tangan kirinya… ya.. ya… yang selalu ia sembunyikan dibalik bajunya… dimana ia sekarang?” Dengan penuh sukacita pak Andi akhirnya dapat mengingat kembali dan menanyakan perihal keberadaan anak tersebut,
”Pak… sayalah anak itu… dan ini lihat…” Jawab Agung sambil memperlihatkan tanda di lengan kirinya kepada pak Andi, setelah melihat tanda itu pak Andi menangis dengan terharunya, dan…
“Ka… kamu… Anak yang dulu… Oh.. Tuhan, sungguh luar biasa! karya-Mu, Engkau penuh dengan keajaiban telah mempertemukan kami kembali… Nak, bolehkah bapak memeluk kamu?”
“Dengan senang hati pak” jawab Agung, lantas mereka pun berpelukan dan terasa sekali aroma kerinduan terobati disana.
“Nak, bagaimana ceritanya hingga dapat menemukan bapak disini?” Tanya pak Andi,
“Pak Andi, mohon maaf sebelumnya bolehkah saya memanggil bapak dengan sebutan ayah?” pintanya
“Boleh nak, dengan senang hati apabila itu membuat hatimu nyaman” Jawab pak Andi,
“Terimakasih ayah, lima belas tahun yang lalu saat itu saya sudah putus sekolah dan kehidupan kami sangat susah. Ayah telah meninggalkan kami saat aku masih berumur tujuh tahun, kemudian tinggalah saya dengan ibu yang waktu itu bekerja sebagai buruh cuci dan bersih-bersih rumah. Sampai saya duduk di bangku kelas lima sekolah dasar saya masih dapat bersekolah, namun saat saya duduk di kelas enam sekolah dasar, ibu sakit-sakitan sehingga tidak dapat bekerja lagi, ibu terkena TBC. Dan saya memutuskan untuk berhenti sekolah dan membantu ibu mencari nafkah dengan menjadi tukang semir, yang akhirnya membawa saya bertemu dengan ayah yang baik ini” Sesaat Agung menghentikan kisahnya untuk mngusap air mata yang menetes di pipinya,
“Dari beberapa kali pertemuan, suatu saat ayah menanyakan tentang sekolah dan cita-citaku, aku jawab aku telah putus sekolah dan bercita-cita untuk menjadi seorang dokter bedah, agar dapat mengoperasi penyakit ibu dan menyembuhkan penyakitnya. Dan ayah juga memperhatikan perilaku saya yang selalu menyembunyikan tangan kiri, saya waktu itu menolak dikarenakan malu, setelah ayah melihatnya, ayah bilang jangan malu nak! Tanda yang ada di tanganmu adalah tanda dari Allah yang telah menetapkan lewat tanganmu banyak orang yang akan engkau selamatkan. Sungguh! Ayah kata-kata itu adalah doa bagi saya dan yang telah membangkitkan semangat untuk giat belajar. Dan diluar dugaanku, ayah pun dengan sukarela mau menjadi ayah angkatku. Bahkan ayah pula yang membawa ibu berobat hingga ibu mendapatkan bantuan pengobatan gratis dari suatu yayasan yang ayah kenal. Terimakasih ayah, atas semua budi baikmu yang tak ternilai oleh harta bahkan nyawa sekalipun, aku dapat menjadi seperti semua bukan karena kepintaran dan kerja keras ku, namun semua berkat jasa dan doa dari ayah” Kembali ia mengusap airmatanya,
“Ayah, tiga tahun yang lalu, saat saya ada seminar di kota ini, saya mencari-cari akan keberadaan ayah. Saya menanyakan ke tempat dulu ayah bekerja, dan mereka katakan jikalau ayah sempat dipindahkan ke beberapa kota, lalu mereka menyarankan agar mencari data-data tentang ayah di sekertariat pensiunan. Dan saya pun meminta alamatnya lalu saya melanjutkan pencarian tentang ayah ke kantor sekertariat. Dari sanalah saya temukan alamat ayah, namun sayang ternyata rumah ayah telah di jual dan pemilik yang baru tidak mengetahui akan keberadaan ayah. Hampir-hampir saya putus asa di buatnya, namun perjuangan saya akhirnya membuahkan hasil juga, ini semua berkat pertolongan Allah, seminggu yang lalu, Andi anak kami yang baru berumur lima tahun. Di tengah malam terbangun dan ia menangis, herannya ia mengatakan kepada kami bertemu seorang kakek duduk di kursi roda dan memangkunya serta berkata ini aku kakekmu. Setelah kejadian itu ia senatiasa meminta kami untuk menemui kakeknya, kami ajak untuk menemui ayah mertua saya, dia bilang bukan kakek yang ini, ia bilang kakek Andi. Saya tidak menyadari pada saat itu, jika yang dikatakan anak kami adalah kakek yang namanya Andi, setelah saya renungkan akhirnya menemukan jawabannya bahwa kakek yang dimaksud anak kami adalah ayah. Saya pun mencari kembali ke kantor pensiunan ayah dan melacak dari beberapa data mungkin ayah dirawat di sebuah rumah sakit. Jika berdasarkan dari mimpi anak kami yang mengatakan ayah duduk di kursi roda. Setelah dilacak melalui jaminan kesehatan milik yayasan pensiun tempat ayah dulu mengabdi, menunjukkan bahwa ayah pernah di rawat beberapa kali di rumah sakit yang kini saya bekerja di sana. Dan disana terdapat data nomor telepon dari seseorang yang bernama Ardy Firmansyah, kemudian saya menelepon nomor tersebut namun yang menerima adalah asisten rumah tangga pak Ardy. Saya katakan bahwa, saya dari pihak rumah sakit dan hendak menanyakan perihal kesehatan Pak Andi untuk data asuransi. Akhirnya asisten itu menceritakan tentang ayah dan memberikan alamat ini kepada saya” Agung pun mengahiri kisahnya yang begitu panjang,
Pak Andi terlihat menangis penuh haru dan tampak pula mata Arya dan pipit yang sejak tadi duduk di pinggir kasur dan menyimak kisah tersebut ikut larut dalam keharuan, dan mata mereka pun berkaca-kaca .
“Ayah, tujuan saya kemari dan menemui ayah adalah salah satunya menunaikan amanah dari almarhumah ibu yang mengatakan kepada saya, agar saya mencari ayah untuk mengucapkan terimakasih atas semua yang telah ayah lakukan kepada saya dan ibu” Lanjut Agung,
“Nak Agung, nggak perlu sampai repot-repot seperti ini, sebab sudah kewajiban kita untuk saling menolong dan berbagi bukan saja dengan saudara dan orang yang kita kenal. Namun kepada semua sesama kita, wajib bagi kita untuk murah hati dan ringan tangan dalam menolong serta membantu. Dan dalam membantu terus terang, saya tak mengharapkan pamrih apapun” Ucap pak Andi
Sebelum Agung mengucapkan kata-katanya muncullah dari balik pintu seorang anak laki-laki dan dengan lincahnya ia berlari dan menghampiri pak Andi, seraya memeluk kedua pahanya dan mengucap,
“Papa.. ini kakekku…” Ucapnya, dan ia pun memegang tangan pak Andi dan menempelkan di dahinya sebagai tanda hormat,
“…” Pak Andi hanyut dalam kesedihan, haru dan bahagia. Ia begitu bahagia manakala seorang anak kecil menyebutnya kakek dan memeluknya dengan hangat, tiga tahun lamanya ia menahan kerinduan akan cucunya hadir dan berkata “kakek” serta memeluknya, kini bagaikan hujan sehari yang telah menghidupkan tanah yang telah mati, terobati sudah dahaga kerinduanya oleh setetes embun di pagi hari… terimakasih Tuhan atas segala nikmat yang telah Engkau berikan… kini aku mengerti, inilah tugas yang terakhir dari-Mu yaitu menantikan kedatangan satu keluarga kecil yang akan menghapuskan dahaga kerinduanku, satu keluarga yang akan menghidupkan jiwa dan hati yang telah kering… terimakasih Tuhan atas segala kesempatan yang telah Engkau berikan…
“mah, aku berangkat dulu ya” ucap ku sambil mencium tangan mama ku
“iya nak, belajar yang rajin ya” balasnya halus sambil tersenyum
Aku mulai menaiki mobil avanza milik papa ku, yang sedari tadi menunggu di dalam mobil
“daaah mama” ucap ku saat sudah berada di dalam mobil sambil terus mengibaskan-ibaskan tangan-tangan ku ke arah mama ku yang masih berdiri di depan pintu sambil mengiringi kepergian ku #alah lebbay
“pa, nanti anterin aku ke toko buku ya” ucap ku memecah keheningan
“ke toko buku? maaf dek papa nanti ada meeting, sama mama aja ya!” ucap papa tampa menoleh ke arah ku.
“papa gak sayang sama aku, papa lebih sayang sama pekerjaan” gerutu ku dalam hati, wajah ku yang tadinya ceria kini mendung (walah tanda air bah mau dateng nih, bapak bapak ibu-ibu aku belum dapet jodoh nieh)
“Adek kenapa?” tanya orang yang tak lain adalah papa
Aku hanya menggeleng sambil terus memandangi aktifitas orang orang dari kaca bening mobil milik papa ku.
“teeet.. tettt” bunyi bel sekolah berbunyi hampir bersamaan dengan kedatangan ku
“pagi non” ucap orang yang tak lain adalah pak boim, dia bekerja sebagai tukang sapu di sekolah ku.
“pagi, pak, saya masuk dulu ya” ucap ku sambil bergegas masuk kelas
“semoga aja bu vina belum masuk kelas” batin ku
Sesampainya di kelas, pemandangan riuh piruh yang kudapat
“syukur lah bu. vina belum datang” batin ku sambil duduk di samping sahabat ku
Kenalkan namanya angel, dia sahabat ku yang selalu menjadi tong sampah semua curhatan, dan dia yang menjadi penceramah yang memberiku nasihat-nasihat dan dia yang menjadi penghibur ku dikala sedih.
“hei bell” sapanya kepadaku diiringi dengan senyum yang khas yang selalu ku temui setiap pagi.
“iya, ngel” balas ku sambil mengambil novel milik ustad felix siauw judulnya #UdahPutusinAja dari dalam tas batik yang kubeli kemarin yang pasti nya gak ditemani sama papa.
Seharian selama pelajaran berlangsung entah mengapa aku terus memikirkan mama, aku khawatir gerangan apa yang akan terjadi, ku harap ia akan baik baik saja. sepulang sekolah seperti biasa aku di jemput sama sopirku. Selama perjalan entah pak rahman terus cemberut tak seperti biasanya.
“Mungkin ia sedang patah hati kali ya (wallah ngawur)” pikir ku sambil sesekali ketawa cekikikan.
“non, udah sampe” ucap nya membuatku terkejut.
“iya makasih pak” ucap ku yang kemudian turun dari mobil.
“mama… aku pulang” ucap ku sambil melepaskan tas ku dan beranjak pergi ke dapur menghampiri mama, namun apa yang ku dapat.
“Untuk bella sayang, mama sekarang ada di surga. Jangan nangis ya, jangan susul papa ke pemakaman”
From papa
Butiran air mata mulai mengalir amat deras dari dua mata ku.
“kenapa mama, kenapa gak papa aja?” ucapku dalam hati sambil terus bertanya tanya
Aku segera berlari ke pos pak rahman. “pak… bapak kapan mama meninggal? kenapa bapak gak ngasih tau saya?, pak. Papa mana?” ucap ku panjang tak terputus putus..
“non yang sabar ya.. tadi setelah nyonya masuk rumah, asmannya kambuh. Tadi sempet dibawa ke rumah sakit tapi nyonya udah keburu meninggal, dan tuan fadel tadi masih di pemakaman” ucapnya
“ya udah pak anterin saya ke pemakaman” kataku sambil meyela air dari kedua mata ku
“baik, non” ucap nya sambil naik kedalam mobil
Aku tak tinggal diam aku langsung masuk mobil, dan tak lama kemudian pak rahman mulai melaju dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di pemakaman yang sepi aku hanya melihat papa ku seorang diri
Aku dan pak rahman segera mendekatinya.
“papa… papa..” ucap ku memanggil papa ku.
Namun aku tak mendapat jawaban apapun.. pak rahman segera mengangkat badan papa.. dannn…
“ASTAGFIRULLAH… PAPAAA… PAAAPAAA” reflek aku berteriak melihat perut papah berdarah… dengan pisau yang masih berada di perutnya..
“apa mungkin papa…” fikir ku dalam hati..
Pak rahman segera memeriksa denyut jantung papa.
“non.. papa masih hidup” kata pak rahman yang segera membopong papa ke dalam mobil
Tangis ku semakin tak beraturan…
Pak rahman segera melesat pergi kerumah sakit.
Di dalam mobil aku hanya bisa menangis berharap papa masih hidup.
Sesampainya di di rumah sakit papa segera di bawa masuk untuk diperiksa lebih lanjut, dan aku sama pak rahman menunggu di luar. Tak beberapa lama kemudian pak dokter keluar dari kamar papa.
“permisi pak, maaf kami sudah berusaha maksimal namun bapak itu banyak kehabisan darah, maafkan kami” ucap nya sambil membuka masker.
“paman taufik” ucap ku kaget
“bella sabar ya..” ucap nya
Segera ku peluk erat seorang dokter yang ternyata adalah paman ku.
Rencana nya setelah aku kehilangan dua orang tua ku aku bakal tinggal sama paman taufik di samarinda. Sebelum aku berangkat ke samarinda aku menyempatkan diri datang ke pemakaman papa mama ku..
Ku pandangi 2 gundukan tanah yang masih baru, ku taburi dengan bunga.. bunga dan ku sirami dengan sebotol air. Tak lupa ku berdoa untuk mereka berdoa.
“papa mama aku gak bakal ngelupain kalian berdua, aku sayang kalian berdua” ucap ku yang tak lama kemudian pergi dari kompleks pemakaman
Aku adalah seorang pria yang boleh di bilang lugu, cupu dan kurang pergaulan, Semasa aku smk aku di kenal sebagai anak yang biasa saja tapi aku mempunyai mimpi dan tujuan yang besar “aku ingin menjadi orang yang di akui dimanapun aku berada”.
Keluargaku Alhamdulillah keluarga yang harmonis walaupun kami hidup dengan sederhana dan sering juga kekurangan, tapi bagaimanapun juga harus tetap di syukuri karena bersyukur itu mendamaikan. Aku bersekolah di smk unggulan di kabupatenku dan sekolah ku lumayan jauh dari desaku yang sehari-hari ku datangi dengan sepeda ontel ku yang sudah tua.
Jam sudah menunjukkan pukul 15:00 bel sekolah berbunyi dengan keras, panjang dan berisik, itu pertanda aku harus pulang, langsung aku ke parkiran motor tapi bukan untuk mengambil motor disana tapi aku mengambil sepeda ontel kesayangan ku pembelian dari ayah ku sewaktu aku masih smp.
Dengan cepat aku keluar gerbang sekolah, suasananya lumayan terik dan berdebu yang membuat aku malas mengayuh sepedaku. cukup melelahkan, di setiap menit aku selalu mendengar klakson motor teman-temanku yang satu persatu menyalipku, ada sedikit perasaan iri di hatiku tapi apa boleh di kata aku terlahir bukan dari keluarga berada dan aku tidak mungkin merengek meminta motor ke orang tuaku karena aku tau itu hanya akan menambah beban pikiran mereka walaupun dua minggu yang lalu aku sempat menyindir kepada ayahku tentang enaknya kalau sekolah naik sepeda motor tapi itu Cuma candaan saja.
Satu jam aku mengayuh sepeda ku tidak terasa tinggal beberapa tanjakan lagi yang harus aku lalui sampai aku tiba di depan rumahku, aku menginjak dengan keras pedal sepedaku tapi prakkk… rantai sepedaku putus Masya Allah padahal 3 hari yang lalu sudah diperbaiki tapi hari ini putus lagi, Akhirnya aku menuntun sepedaku sampai di depan rumahku.
Setibanya di rumah aku langsung melepas jaket dan langsung menjemur baju seragamku yang basah oleh keringat.
“sudah pulang Rif…?” tanya ibuku “iya buk. “tadi kamu di cariin pakde rif suruh bantuin giling padi soalnya bapakmu ke kebun belum pulang, nanti uangnya buat kamu saja” padahal sepulang sekolah saya mau main futsal sama teman-teman tapi aku harus bisa memilih mana yang lebih penting akhirnya aku mengiyakan permintaan ibuku.
Setelah ganti baju dan minum aku langsung menuju tempat penggilingan padi milik pakdeku disana kulihat banyak sekali padi yang harus digiling huhh dalam hatiku menggumam “segini banyak kapan kelarnya mana perut ini laper banget belum makan” tapi sejenak aku lupakan pikiran itu dan langsung saja aku mengangkat sak-sak padi yang siap di giling ke mesin penggiling. pakdeku hanya tersenyum melihatku, walaupun dari kejauhan aku masih bisa melihat senyuman kecil dari bibirnya. Gatal sekali badan ini karena terkena padi-padi yang aku angkat di samping itu perutku juga lapar sekali. tapi aku tidak mau mengeluh dan terus mengeluh karena itu tidak membuat pekerjaanku menjadi lebih ringan yang ku bisa adalah terus mengangkat padi-padi ini hingga selesai.
Dua jam sudah berlalu dan tidak terasa akhirnya sak terakhir aku angkat dan langsung aku masukkan ke mesin penggilingan padi dengan semangat, “hahhh akhirnya selesai juga” gumam ku. langsung aku tepar tidak punya tenaga karena perutku yang dari tadi pulang sekolah belum ku isi sedikitpun tapi tiba-tiba pakde menghampiri ku.
Pakde: “makasih ya rif udah mau bantu pakde” ini uang hasil kerja kamu memang gak seberapa karena harus dibagi-bagi di terima ya.”
Aku: “ya pakde sama-sama gak apa-apa kok arif senang bisa bantu pakde” sambil aku menerima uang delapan ribu rupiah hasil kerja ku tadi.
Pakde: “Ya udah ayo ini di makan makanan masakan bibi mu” sambil mengambilkan aku sebuah piring.
Aku: “ya pakde…” tanpa berlama-lama aku langsung menyambar makanan yang ada di depanku dan memakannya dengan lahap.
Jam sudah menunjukkan pukul 18:13 setelah selesai makan aku langsung pamit kepada pakde untuk pulang. Di sepanjang jalan aku menuju rumah aku teringat sesuatu, “sepeda yang ku buat sekolah rantainya kan putus tadi siang dan kebetulan aku punya uang delapan ribu pemberian pakde tadi yang bisa ku gunakan untuk membawa sepedaku ke bengkel” batin ku.
Akhirnya sesampainya di rumah aku langsung mandi, sholat maghrib dan langsung mengambil sepedaku untuk ku bawa ke bengkel samping desa ku. lama aku menuntun sepedaku ke bengkel dengan harapan bisa segera diperbaiki tapi setibanya di bengkel ternyata bengkel sudah tutup aku sangat kecewa di situ “capek sekali menuntun sepedaku dari rumah ke sini ternyata malah tutup huhhh” keluhku dalam hati. akhirnya aku kembali membawa sepedaku yang masih rusak ke rumah belum jauh aku meninggalkan bengkel tiba-tiba ada seorang pemuda yang ugal-ugalan naik motor yang hampir menabrakku tapi aku berhasil minggir dengan cepat tapi tidak dengan sepedaku roda ban sepedaku tertabrak alhasil penyoklah besi rodanya, aku mau marah tapi pemuda tadi langsung tancap gas gak peduli.
Akhirnya aku sampai di rumah, aku terus menggumam dan mengeluh dalam hati bagaimana besok aku berangkat sekolah padahal kan jarak rumah ke sekolah jauh dan bila jalan kaki pasti akan melelahkan sekali tiba-tiba terbesit sebuah pikiran yang buruk “mungkin aku besok gak usah masuk sekolah dulu paginya aku mau ke bengkel lagi buat memperbaiki sepedaku, Tapi alasan buat aku tidak masuk sekolah apa..? tidak mungkin kan aku membolos Ya Allah berilah jalan keluar bagi hamba mu ini”, setengah aku melamun tiba-tiba pintu rumah ku digedor-gedor orang dengan keras, Ibuku dan Aku kaget dan langsung membukakan pintu. ternyata mas joko, tetanggaku teman kerja ayahku
Mas. joko: “lek sumi pakde lek pakde..” dengan suara terbata-bata dan keringat yang bercucuran.
Sumi: “kenapa suamiku ko…?” tanya ibuku dengan cemas
Mas. joko: “pakde di rampok lek..”
Sumi: “dimana..?, gimana ceritanya ko..?, sekarang dimana suamiku…?” dengan airmata dan raut muka cemas ibuku bertanya
Mas. joko: “Tadi selepas di kebun, pakde dengan buru-buru menuju ke rumah juragan Broto katanya Dia mau pinjam duit katanya buat kredit sepeda motor untuk Arif sekolah dengan jaminan sertifikat kebun lek..”
Sumi: “bapak kok gak cerita sama saya ko…? dan pak Broto kan seorang rentenir, YA Allah bapak-bapak”
Mas. joko: “setelah nerima uang akhirnya pakde pulang sama saya. tiba-tiba di tepi jalan tepatnya di depan kebun dekat bengkel sepeda pinggir desa ada seorang pemuda yang membawa sepeda motor turun dan meminta dengan paksa uang pakde, Pakde melawan dan akhirnya pemuda tadi nekat terus menusuk perut pakde uangnya di ambil kemudian kabur.”
Sumi: “kamu kok gak bantu pakde ko…?, terus kondisi pakde sekarang gimana…?”
Mas. joko: “sama pakde saya disuruh lari lek, suruh cari bantuan tapi desa sudah sepi apalagi bengkel sepeda yang biasanya buka saat itu juga tutup, akhirnya saya harus lari ke tengah desa, setelah itu saya kembali ke tempat pakde membawa sejumlah warga tapi ternyata pakde sudah terbunuh lek” sambil menangis tak karuan.
Sumi: “Innalillahi… Ya Allah bapak..” seketika itu ibuku pingsan karena tak kuasa menerima berita ini
Aku: “YA Allah ibuk.. mas. joko tolong mas”. sambil membopong ibuku, di situ aku bingung bercampur sedih tapi ku coba kendalikan diriku. “mas joko tolong pangil warga mas aku jagain ibu dulu”.
Mas. joko: “Iya rif… kamu tunggu sebentar ya”
Lama aku menunggu kedatangan warga, di situ aku menangis sejadi-jadinya atas musibah yang menimpa keluargaku.
Akhirnya warga pun datang sambil membawa jasad ayah ku yang terbujur kaku dan dingin, di situ aku semakin keras menangis karena aku kehilangan sosok seorang ayah yang aku sayangi yang meninggal karena di bunuh. untung ada warga desa yang membantu dan mengurus semua biaya pemakaman untuk ayahku, Sampai tiba keesokan pagi, ibuku masih belum terbangun dari pingsannya dan aku tidak berangkat ke sekolah karena ayah ku meninggal dunia, semakin kalut suasana hatiku tiba-tiba terbessit pikiran mungkinkah pemuda yang menabrak sepedaku kemarin adalah pembunuh ayahku..?
Pagi ini kusambut mentari pagi. Kulangkahkan kaki menuju sekolah, meski tak ada lagi yang mengantarku. Tak seperti dulu saat ayah di sisi ku Ia akan menyambut pagi ini dengan bunyi klakson motornya yang berisik tanda ia terlalu lama menunggu. Bunda akan melihatku dan mengantarku hingga di depan pintu dengan senyuman hangatnya.
Yahh, tapi itu dulu, saat ayah ada di antara kami, kini tak ada lagi senyuman hangat dari bunda, yang ada hanyalah muka letih karena terlalu lelah bekerja, yang ada hanyalah kerut muka tanda bertambah usia.
Dulu aku berfikir betapa menyebalkan ayah dengan segala peraturan yang dibuatnya, tapi kini aku merindukan segala tutur katanya, betapa lembut belaian darinya, bahkan harum tubuhnya pun kini aku rindukan. Aku menyadari betapa pentingnya ia di hidupku, kini pelita itu telah hilang seolah pergi tanpa bayang. yang kucari tak lagi dapat kutemukan hanya angan yang tersisa.
Saat kepergian ayah, kurasakan kehilangan yang luar biasa, hatiku bergejolak, tapi kulihat Bunda ia seolah ingin melawan takdir, hatinya begitu tersayat, raungan kepedihan begitu mendalam di hatinya, berkali kali ia pingsan, menyebut nama ayah tanpa sadar.
Yah, lagi lagi itu dulu, kini aku bersama bunda memulai hidup baru, memulai menata hidup kami kembali, kini aku mulai menyongsong masa depan lagi lagi “Meski Tanpa Ayah” di sisi. Bunda mulai menerima kenyataan bahwa ayah telah tiada bersama kami. Bayang-bayang suara ayah akan keinginanya untuk agar aku menjadi dokter semakin membangkitkan emosi. Ayah, lihatlah aku, meski tanpamu kini aku bisa berdiri, dan meraih impian, tapi ini semua tak lepas dari keinginanmu. Love you ayah..
Langganan:
Postingan (Atom)

